ISTIMEWA
PERCAYA DIRI : Ditra berharap tampil maksimal dan bisa mempersembahkan emas untuk DIJ di PON 2016.

Padukan Skill dan Mental, Tak Hanya Andalkan Kecepatan

Kelas 4 SD, Ditra sudah ikut balapan BMX. Tapi sejak diajak bermain mountain bike (MTB), dia langsung tertarik. Selain lebih menantang, apa yang membuatnya memilih downhill?
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Trek downhill Gunung Pinang di Cilegon, Banten tidak akan pernah dilupakan Ditra Pranata. Di trek itulah, Ditra mengayuh MTB-nya di kejuaraan downhill kali pertama.
Trek menantang dan semakin memacu adrenalin di saat hujan ini, memberi pengalaman berharga bagi Ditra.
Begitu menginjakan kaki di area downhill, seperti pembalap sepeda lainnya, Ditra pun menyiapkan sepedanya. Mengecek kondisi, mulai dari ban, body, dan tak lupa mengenakan baju dan pengaman standar untuk dipakainya sendiri. Resiko tergelincir, jatuh dan cidera selalu membayangi setiap pembalap downhill. Itu mengapa, pengaman tubuh seperti helm, deker, sarung tangan, sepatu selalu wajib dikenakan.
Beruntung, saat tes trek, cuaca cukup bersahabat. Ditra dan pembalap lainnya pun menguji trek, kesempatan juga bagi dirinya untuk menghafal lintasan dan rintangan. Uji coba pun berjalan lancar.
Namun di hari H, hujan yang turun tidak bisa dielakan. Tetapi, entah panas ataupun hujan, kejuaraan tetap berjalan. Dan tiba saatnya Ditra memasuki trek. Degup jantung yang kencang, sudah memompa begitu dirinya berada digaris start. Hujan sedikit membuyarkan konsentrasi. Tapi show must go on, Ditra pun mengambil strat pertama di kejuaraan downhill pertamanya.
Adrenalinnya yang sudah terpompa, menarik dirinya untuk mengayuh MTB-nya dengan kencang. Bayang-bayang balapan BMX masih terngiang. Tanpa sadar, Ditra memacu MTB-nya terlalu kencang. Dan “bruuuuk”.
Tubuhnya menghantam pohon besar, dan saat itu juga dia tidak sadarkan diri. Padahal, itu hanya berjarak kurang lebih lima meter dari garis start, Ditra ambruk bersama MTB-nya.
“Helmku retak, tapi untungnya aku tidak cedera serius,” jelas atlet pelatda DIJ kelahiran Jogja, 30 April 1990 ini. Kejadian itu memberi ilmu berharga. Karena downhill tidak hanya mengandalkan kecepatan dan emosi, tapi memadukan skill dan mental.
Sejak pengalaman pertamanya melaju di trek downhill Cilegon, keinginanya untuk memfokuskan diri di downhill semakin tinggi. Memasuki tahun 2007 pun Ditra memilih fokus ke downhill, dan melepas BMX. Hari-harinya pun dihabiskan untuk berlatih, terutama fisik dan skill. Kejuaraan demi kejuaraan pun mulai disambangi, untuk melatih mental.
Berjalannya waktu, berbagai trek downhill sudah dijajal. Tak hanya kejuaraan bertaraf nasional, tapi juga internasional. Peringkat dua Indonesian Downhill Series ini juga pernah menjajal trek di Malaysia, Singapura dan ikut kejuaraan MTB di Australia. Dirinya pun membuktikan diri dengan menyabet 2 emas dan 1 perunggu di Porda 2013 lalu.
Peraih medali emas kejuaraan ASEAN MTB Cup 2015 Seri 2 di Wonogondang, Sleman ini kini tengah sibuk mempersiapkan diri menghadapi Pra PON dan PON 2016 di Jawa Barat.
Berlatih pagi dan sore rutin dilakukan, ditambah latihan fisik dengan fitness. Siapa lawannya nanti, bukan jadi persoalan. Jelas, semua atlet juga akan mempersiapkan diri dengan maksimal, demikian halnya dengan dirinya. Pasalnya, dalam downhill sulit memprediksi kekuatan lawan, karena beda trek, atlet pun akan memiliki persiapan yang berbeda juga.
“Aku berharap bisa tampil maksimal dan bisa mempersembahkan emas untuk DIJ. Karena di PON Riau lalu aku ngga bisa maksimal, karena terkena gelaja DB dan hanya bisa berada di posisi enam,”ujar Ditra.(din/ong)

Boks