GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

BAHAGIA KEMBALI: Empat pasangan yang merupakan mantan binaan UPT Panti Karya, Jogja, saat mengikuti nikah masal, kemarin.

Tetap Bangga meski Sudah Punya Dua Cucu

Setelah dibina di Panti Karya, kelayan atau penyandang masalah kesejahteraan sosial diharapkan dapat kembali ke masyarakat. Tetapi sebelumnya, mereka dibekali dulu dengan aturan di masyarakat. Salah satunya, pernikahan resmi yang diakui agama dan tercatat negara.
HERU PRATOMO, Jogja
“RASANYA ya seneng,” ujar Sumarno (54) ketika ditanya perasaannya setelah resmi menikah dengan Suryatmi (44). Pasangan Sumarno-Suryatmi merupakan satu di an-tara empat pasangan yang mengikuti nikah masal yang diselenggarakan UPT Panti Karya, kemarin (16/12). Selain Sumarno dan Suryatmi, juga ikut nikah masal pasangan Dalidjo (58) dengan Suwarni (44), Margono (37) dengan Sulistiani (34) serta pasangan termuda Charles Adi Saputra (23) dengan Desty Lylasari (17). Empat pasangan ini merupakan mantan warga binaan panti. Me-reka melaksanakan ijab kabul di KUA Mergang-san dan dilanjutkan resepsi di UPT Panti Karya.
Meski ini merupakan pernikahan kedua bagi Sumarno dan Suryatmi, mereka menga-ku tetap bahagia. Menurut Sumarno yang saat ini juga bekerja sebagai tenaga bantu di UPT Panti Karya tersebut, ia bertemu dengan Suryatmi saat mengerjakan kolam di daerah Seyegan, Sleman. Karena merasa cocok, keduanya pun memutuskan untuk menikah. “Dia dulu sering nunggu saat saya garap kolam,” ujar warga Tempel itu.Tetapi ketika ditanya apakah masih ingin memiliki momongan, justru putranya Agus yang langsung menjawab. “Jangan, sudah cukup,” jawabnya, cepat. Mendengar itu, Sumarno pun hanya tersenyum
Dirinya mengaku menyerahkan semuanya kepada yang di atas. “Tergantung Tuhan saja, kalau ngasih, ya tidak apa-apa,” ujar Sumarno yang sudah memiliki tiga putra dan dua cucu itu.
Kepala UPT Panti Karya War-yono mengatakan, Sumarno merupakan salah satu mantan binaan panti selama enam tahun yang kemudian bekerja di Pan-ti Karya. Melalui kegiatan nikah masal ini, pihaknya juga ingin memberikan pendidikan tentang pernikahan resmi secara agama dan negara terhadap warga bi-naan. Untuk maharnya berupa seperangkat alat salat. “Ini se-bagai upaya memanusiakan manusia, sekaligus memberikan pemahaman tentang aturan hidup kepada mereka,” jelasnya.
Dalam melakukan pembinaan terhadap warga panti, diakui Waryono, dilakukan dengan te-rapi dan mempersiapkan kelayan tersebut, agar diterima lagi di ling-kungan masyarakat. Selain itu UPT Panti Karya juga melayani kelayan yang tidak diterima lagi di RS saat membutuhkan layanan medis. Waryono menjelaskan, kelayan yang dibina di UPT Panti Karya mulai dari pengemis, gelandangan, orang gila, bahkan ada orang yang dibuang keluarganya.
Mereka adalah hasil razia polisi, Satpol PP maupun yang diserahkan oleh masyarakat. Selama 2014 ini, pihaknya sudah memulangkan 57 orang ke kelu-arganya di luar DIJ dan 116 di-pulangkan ke keluarganya di dalam wilayah DIJ. “Terakhir kemarin saya mengantarkan kelayan pulang ke Palembang,” tuturnya.
Hingga Desember 2014 ini, UPT Panti Karya telah menangani 517 kelayan sosial. UPT ini juga pernah melakukan hipnosis terhadap warga binaan dan hasilnya keba-nyakan menggelandang atau menjadi anak jalanan karena pola hidup. “Mayoritas karena pola hidup yang malas serta kurang percaya diri,” tuturnya.Waryono mengungkapkan, nikah masal eks warga binaan Panti Karya ini juga sebagai bukti mereka diterima masyara-kat.
Menurut dia, awalnya ter-dapat 45 pasangan yang akan diikutkan nikah masal, yang baru pertama diadakan. Tetapi ka-rena terganjal kelengkapan per-syaratan, akhirnya hanya empat pasangan saja yang dinikahkan. “Sisanya diikutkan tahun depan, jika persyaratanya sudah lengkap. Kami juga ingin memberikan contoh kepada mereka untuk tertib administrasi,” tambah Waryono. (*/laz/ong)

Boks