DWI AGUS/RADAR JOGJA
DUNIA SASTRA: Salah satu kegiatan Jogja Kembali Kembali Jogja yang diinisiasi seniman Landung Simatupang di TBY (2/12).

Dari Pembacaan Naskah Sastra “Di Luar Kobar Api dan Gugur Bunga” di TBY

Selasa malam (2/12) Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali memainkan perannya. Bangunan bergaya arsitektur barat ini menyajikan sebuah peristiwa seni. Dikomandani seniman Landung Simatupang, pembacaan naskah sastra pun digelar.
DWI AGUS, Jogja
KURSI merah Concert Hall TBY perlahan mulai dipadati pengunjung. Meski tidak padat seperti pertunjukan biasanya, hari itu tetap istimewa. Sebuah pertunjukan seni bertajuk Di Luar Kobar Api dan Gugur Bunga pun digelar.Tidak seperti pertunjukan pada umum-nya, kali ini penampilnya hanya duduk bersila. Sesekali terlihat intonasi nada yang menggebu-gebu.
Sedetik kemudian menjadi intonasi yang lirih dan sedih me-nyayat.Pembacaan naskah ini merupakan petikan dari novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Gabriel Possenti Sindhunata. Pem-bacaan naskah ini sendiri merupakan salah satu kegiatan Jogja Kembali Kembali Jogja yang diinisiasi oleh seniman Landung Si-matupang
“Acara ini adalah bentuk ke-prihatinan akan perkembangan dunia sastra di Indonesia dan Jogjakarta khususnya. Per-kembangannya tidak meng-gembirakan seperti disiplin ilmu seni yang lain. Tapi pada kenyataan tetap mampu berta-han dan berkembang,” kata Landung (2/12).
Acara diawali dengan tampil-nya dua seniman kerakyatan. Berpakaian sahaja seniman yang bernama Siti Saodah dan Kacuk Sugimin ini membawakan se-buah tembang. Sebelumnya, keduanya terlihat membawa dua kembang mayang yang terbuat dari janur.Setelah meletakkan sepasang kembang mayang, mereka lan-tas menyanyi sebuah tembang berbahasa Jawa.
Usai merampungkan tembangnya, kedua-nya pun bergegas keluar dari panggung pertunjukan. Beberapa detik kemudian mucul puluhan anak kecil dengan kaos serba putih.Puluhan anak ini terlihat riang dan bernyanyi bersama. Seakan bermain di halaman, anak-anak ini memainkan ragam dolanan bocah.
Fokus penonton pun berubah ketika Tedjo Badut masuk ke panggung dengan singgasana motor roda tiga miliknya.Dengan gaya yang kocak, Tedjo pun memanggil puluhan anak ini. Mengambil sikap me-dongeng, Tedjo bersiap men-ceritakan dongeng Ramayana. Usaha Tedjo kali ini pun sedikit berat, karena beberapa anak terlihat menggelayut manja di sekelilingnya.
“Untuk penonton harap maklum ya, soalnya masih anak-anak. Nah untuk anak-anak sekarang kita dengerin dulu cerita dong-eng Rama dan Sinta ya. Habis itu baru boleh main sulap-sula-pan,” ajak Tedjo.
Dongeng dari Tedjo ini seakan membuka sebuah gerbang per-tunjukan utama. Dari balik tirai hitam, munculah para seniman. Sebut saja Ami Simatupang, Annisa Gertami, Donita, Margono, Pritt Timothy, Yantoro Jangkrik, dan tak lupa Landung Simatupang.
Fragmen serius pun langsung menyorot pembacaan naskah malam itu. Pembacaan kali ini fokus pada kisah Sinta melaku-kan pati obong untuk membuk-tikan kesuciannya. Kisah ini mengangkat bagaimana keka-sihnya Rama tidak percaya pada Sinta.”Sama seperti fragmen dalam cerita aslinya ketika Sinta dicu-lik oleh Rahwana. Rama meminta Sinta untuk lompat ke dalam api. Banyak pertentangan yang terjadi, termasuk para ke-rabat dan pasukan Rama,” kata Landung.
Secara apik Annisa Hertami berperan sebagai Sinta yang tersiksa batinnya. Dalam perannya, Annisa sapaan akrabnya, mampu menghidupkan naskah. Uniknya suara Sinta yang iden-tik lirih dibawakan dengan su-ara yang lebih berat.Annisa mengungkapkan pemi-lihan suara ini atas arahan Landung. Diajeng Jogjakarta 2014 ini diminta memerankan Sinta yang sedih namun tetap tegar.
Menjalani permintaan sang Rama yang dibaca oleh Yantoro Jangkrik meski dalam hati kecil-nya terjadi sebuah pertentangan.”Bagaimana menghidupkan sosok Sinta yang patuh pada per-mintaan Rama. Yang perlu digarisbawahi, Sinta bukan terjun untuk membuktikan kesucian dirinya. Ini dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan orang yang dicintainya saja,” kata Annisa.
Framen Sinta ini pun diwujud-kan dalam tarian oleh Enji Sekar Ayu. Uniknya, fragmen ini diiringi suara tawa dari anak-anak buta, kera dan manusia. Secara khusus, Landung mengemas ini sebagai bentuk sindiran perpo-litikan saat ini, di mana suara anak-anak diibaratkan sebagai suara rakyat kecil.
Sementara fragmen utama Rama, Sinta, dan Rahwana mer-upakan perwakilan elite pengu-asa. Pembacaan naskah kali ini seakan menyiratkan sebuah makna lain. Bahwa sejatinya pertentangan khususnya politik hanya dirasakan kaum atas saja.”Apakah ini bukan sesuatu tamparan karena yang bertengkar hanya atas saja. Sedangkan rakyat kecil hanyalah korban dari kaum atas. Dalam fragmen ini seakan semua bergembira bukannya bersedih karena ke-jadian di atas,” kata Landung.
Dalam kesempatan ini sang penulis novel Romo Sindhu juga turut hadir. Duduk membaur dengan penonton, dirinya sea-kan menikmati setiap detail pertunjukan. Landung pun mengemas pertunjukan ini dengan apik.Menghadirkan bentuk fisik bangunan Pendapa Gamel dan Water Castle Taman Sari sebagai latar belakang panggung.
Bangunan ini diwujudkan dalam ben-tuk olah baying digital. Semakin lengkap dengan adanya bebe-rapa tokoh wayang kulit yang sesuai dengan lakon malam itu.”Saya puas dengan pertunjukan ini, bagaimana naskah mampu dihidupkan oleh setiap pemain-nya. Cara pengemasannya juga terlihat hidup,” kesan Romo Sindhu.
Pertunjukan ini melengkapi aksi sastra yang sudah digelar kurang lebih dua bulan bela-kangan. Bertempat di Bangunan Cagar Budaya Warung Sate Puas atau Pendapa Gamel, ragam kegiatan sastra telah dilakukan. Acara yang didukung Dinas Pariwisata DIJ ini turut mem-beri semangat Perkumpulan Seni Nusantara Baca. Landung sebagai inisiator acara ini pun konsisten untuk ke depan. Dengan menggelar ragam kegiatan seni sastra.
“Pembacaan ini juga turut melestarikan sastra Jawa. Dalam dua bulan lalu diisi dengan pem-bacaan sastra Jawa. Ini wujud kekayaan kita yang patut diles-tarikan dan dikenalkan terus. Terbukti, minatnya memang ada jika kita mau mengangkatnya,” kata Landung. (*/laz/ong)

Boks