HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

SEMANGAT MAJU: Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) saat malam tirakatan Peringatan Hari Jadi Kulonprogo ke-63 di Gedung Kaca, Kompleks Pemkab, Rabu (14/10) malam.

Kemampuan Bupati Disamakan dengan Mahathir Mohammad

Pemkab Kulonprogo menggelar doa dan malam tirakatan Peringatan Hari Jadi Kulonprogo ke-63 di Gedung Kaca, Kompleks Pemkab, Rabu (14/10) malam. Bupati Kulonprogo dr HHasto Wardoyo, Sp.OG(K) serta para agama dan tokoh masyarakat turut hadir, termasuk mantan Bupati KulonprogoToyo S Dipo.
HENDRI UTOMO, Kulonprog
SUASANA malam begitu hangat di Gedung Kaca, Kompleks Pemkab Kulonprogo. Senyum mengembang dan wajah berseri penuh harapan terlihat di raut wajah tamu yang hadir dalam Tirakatan Hari Jadi Kulonprogo ke-63. Acara tersebut mengambil tema Dengan Hari Jadi ke-63 Kita Tingkatkan Semangat Kebersamaan dan Solidaritas Guna Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat dan Mempercepat Penanggulangan Kemiskinan. Harapannya kehidupan masyarakat di Kulonprogo semakin sejahtera di masa mendatang.
Kegiatan itu dihadiri Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), para tokoh agama dan masyarakat. Terlihat juga mantan Bupati Kulonprogo Toyo S Dipo malam itu. Tirakatan dan doa bersama itu juga diisi proses pemotongan tumpeng dan ceramah yang disampaikan Marsekal TNI (Purn) Imam Safaat SIP.Marsekal TNI (Purn) Imam Safaat SIP menyatakan sangat terkesan dengan pres-tasi yang diraih Kulonprogo saat ini. Cara menganalisa dan penanganan kemiskinan sangat luar biasa. Seperti dokter dengan cara kerja yang sangat sistematis.
“Jadi untuk memecahkan masalah ada proses cek dulu, didiagnosa, diobati. Jika belum sembuh diberikan resep yang lebih ampuh lagi. Cara seperti ini sama dengan yang dilakukan dokter Mahathir Mohammad dari Malaysia yang mampu membawa Malaysia menjadi jaya,” terangnya.
Imam menilai, Bupati Hasto memiliki visi yang jauh kedepan dan didukung dengan tekad yang sangat kuat. Baginya dua hal itu sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. “Meningkatkan semangat keber-samaan juga penting, karena untuk menyatukan pendapat sulit kalau tidak ada kebersamaan,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Hasto menyampaikan sesuai dengan tema Hari Jadi Kabupaten Kulonprogo tahun ini, semangat kebersamaan kepedulian dan solidaritas sangat penting untuk mengatasi kemiskinan di Kulonprogo. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada setiap PNS yang telah ikut men-dampingi empat KK miskin sebagaimana program yang dirintisnya. “Sedikitnya ada delapan ribu PNS dan total ada 31.000 KK miskin di Kulonprogo, saya berharap semua KK miskin terdampingi. Pendampingan tidak dengan memberi uang, tapi membantu untuk mengakses program pemerintah, PNS pendamping bisa mengarahkan,” jelas Hasto.
Menurut Hasto, selama ini tidak sedikit KK miskin yang tidak mengetahui program-program dari pemerintah. Sementara itu, berdasarkan data kemiskinan di Kulonprogo dalam dua tahun terakhir berada di angka 21 persen. Setiap tahun baru dapat mengentaskan kemiskinan sebesar satu persen. “Menurunkan angka kemiskinan memang sangat berat sekali, namun semua harus bergandengan tangan dan berusaha untuk mengentaskan kemiskinan,” ujarnya.
Hasto menambahkan pihaknya telah melakukan berbagai inovasi untuk menekan angka kemiskinan, termasuk untuk pelayanan kesehatan yang berhasil meraih prestasi tingkat nasional. Yakni program layanan tanpa kelas di RSUD Wates, menjadi salah satu dari 33 inovasi besar di Indonesia.Koperasi sebagai saka guru pereko-nomian juga dihidupkan. Yakni dengan mencoba menguasai 50 persen industri lokal, koperasi digiring untuk merger sehingga lebih kuat dalam melawan kapitalis.
“Saya sudah meminta toserba berja-ringan yang ada agar diganti setelah masa izinnya habis. Saat ini sudah ada tiga toserba berjaringan yang diakuisisi jadi Tomira (Toko Milik Rakyat). Ini sebagai salah satu bentuk penegakkan ekonomi kerakyatan,” ucap Hasto.Ditambahkan, dalam rangka meng-hadapi AFTA, semua barang dari luar negeri bebas masuk Indonesia. Bahkan Thailand siap kirim beras ke Palembang dalam waktu enam jam. “Untuk itu jika kita sulit melawan teknologi negara lain, maka harus diperangi dengan ideologi. Mari kita perangi kekuatan teknologi negara lain dengan ideologi Bela dan Beli Kulonprogo,” tandasnya. (*/ila/ong)

Boks