Dari Peluncuran Buku dan Peresmian Taman Tino Sidin

Berbicara tentang sosok almarhum Tino Sidin, begitu banyak hal yang bisa diceritakan. Kiprahnya dalam dunia pendidikan seni anak, begitu kuat. Terlebih torehan tangannya dalam setiap gambar, sketsa maupun lukisan. Baginya, menggambar adalah kegiatan yang menyenangkan.
DWI AGUS, Bantul
PRIA kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925 ini memiliki jasa besar dalam dunia seni. Semangatnya dalam menggambar selalu ditularkan kepada anak-anak. Pak Tino –sapaan akrabnya– selalu berujar bahwa menggambar itu mudah. Selain itu, menggambar merupakan kegia-tan yang menyenangkan. Untuk mengenang semangat ini, sebuah buku biografi diterbitkan. Bertajuk Tino Sidin, Guru Gambar dan Pribadi Multi Di-mensional buku kisah maestro seni ini di-terbitkan Sabtu lalu (27/9). Peluncuran ini sekaligus menandari peresmian Taman Tino Sidin. Beberapa benda koleksi dan karya sang maestro tersaji di taman ini.
“Menceritakan perjalanan hidup seorang Tino Sidin tentunya tak cukup dalam se-buah buku ini. Namun setidaknya dapat melihat kiprahnya dalam dunia pendidikan seni anak. Bahwa metode yang diterapkan-nya sangat pas, yaitu bersenang-senang dengan menggambar,” kata Mikke Susanto dalam peluncuran buku.Tepat dalam peluncurannya, buku ini pun dibedah terlebih dahulu. Selain Mikke turut hadir pula Prof Dr H Tulus Warsito, Drs Subroto Sm, MHum MA, Dr G Budi Subanar, Sudarwoto, dan Andi ‘Pensil Ter-bang’. Bedah buku biografi ini turut dimo-deratori oleh Purwadmadi. Untuk menghadirkan kisah perjalanan hidup si guru gambar ini, berbagai upaya pun dilakukan. Dedikasinya dalam dunia seni khususnya gambar sangatlah besar. Sehingga para penulis buku ini tidak hanya menggandeng beberapa narasumber
Kisah perjalanan ini merupa-kan rangkuman kisah bersama keluarga, seniman, kolega, dan pemerhati seni. Bahkan Kemen-terian Pendidikan dan Kebu-dayaan Republik Indonesia turut berpartisipasi dalam ter-bitnya buku ini.”Sosok Pak Tino adalah sosok yang sangat menarik untuk diu-las meski telah meninggal tahun 1995. Kesederhanaannya, kepe-dulian dan totalitas selalu meng-inspirasi. Terlebih cara menga-jarnya yang memberikan ba-nyak nilai untuk anak-anak,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ke-mendikbud RI Dr. Harry Widi-anto.
Sisi-sisi lain dalam hidup Tino Sidin digali kembali dan diung-kapkan oleh lima penulis yang terlibat. Ada Daoed Joesoef mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada era Presiden Soeharto, G. Budi Subanar seo-rang budayawan dan pengajar di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.Ada pula Sun Ardi seorang perupa dan pengajar di ISI Jog-jakarta, Purwadmadi seorang penulis, pemerhati seni rupa dan tradisi dan Mikke Susanto kura-tor dan pengajar di ISI Jogja-karta. Penyuntingan pun dila-kukan oleh seorang perupa bernama Subroto Sm.
Buku biografi setebal lebih dari 200 halaman ini begitu de-tail menceritakan kisah Pak Tino. Selain itu juga memuat teknik mengajar dan pengeta-huannya tentang psikologi anak didik. Buku biografi inipun mampu menjadi media pembe-lajaran tentang pedagogi.Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono X pun menyambut positif buku ini. Raja Keraton Jogja-karta ini menyempatkan menu-lis sebuah kata sambutan. Dalam tulisannya, HB X berharap ma-syarakat dapat lebih mengenal sosok Tino Sidin.”Pembawaan Pak Tino yang sederhana, ramah, dan kebapa-kan mampu menjadikan dunia seni lukis nampak begitu mudah dan menyenangkan di mata anak-anak muridnya,” kata HB X dalam tulisan sambutannya.Gambaran positif Tino Sidin juga disampaikan Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof Dr Danang Parikesit dalam tu-lisan penutup buku ini. Danang mengatakan Pak Tino-lah yang mengenalkannya dengan prin-sip berinisiatif.
Hal senada disampaikan kri-tikus seni rupa dan pengajar di Pascasarjana ISI Jogjakarta Su-warno Wisetrotomo. Menurutnya, Tino Sidin menjadi salah satu inspirator yang menggugah, menarik, dan menumbuhkan kegembiraan bagi para muridnya. Kehadiran buku ini menjadi sangat penting artinya bagi du-nia pendidikan.”Buku ini mampu mengajak kita menyelami masa-masa seo-rang Tino Sidin. Tidak hanya tulisan, hadir pula foto-foto yang menampilkan berbagai aktivitas Pak Tino. Ada pula sejumlah karya-karya seninya yang mam-pu menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang sosok Pak Tino secara visual,” tambah Mikke.
Melengkapi buku ini, Taman Tino Sidin pun turut didirikan di Jalan Tino Sidin No. 297, Ka-dipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Salah seorang putrinya, Panca Takariyati Sidin aktif da-lam pembangunan taman ini. Dalam taman ini akan dilen-gkapi berbagai foto, karya, dan memorabilia Pak Tino. Bangunan dua lantai ini akan menyajikan ragam perjalanan, yang terekam melalui benda-benda terdekat Pak Tino pada waktu itu.Sebagai anak, Titik Sidin –sa-paan akrabnya– sangat menge-nang sang ayah. Terlebih kegem-biraan dan senyum yang selalu terkembang. Bahkan seorang Tino Sidin pun tak pernah mengeluh. Terlebih saat dirinya divonis menderita kangker paru-paru.”Di rumah bapak itu selalu banyak ketawa dan ngayomi. Hingga hal pribadi yang dirasa-kan tidak pernah disampaikan. Meski sakit pembawaan tenang, senyum dan tertawa. Bapak tidak pernah ngomong kalau tubuhnya sebenarnya sakit,” kenang Titik Sidin.
Titik pun mengenang seorang Tino Sidin sebagai sosok yang disiplin. Salah satunya melalui programnya di TVRI dulu yang bertajuk Gemar Menggambar. Melalui acaranya ini, Pak Tino selalu mengajak anak-anak mandi sore sebelum menggam-bar.Meski ringan, namun efeknya sangat bagus bagi anak. Anak menjadi disiplin dalam men-jaga diri. Selain itu juga mem-berikan contoh yang baik dalam berperilaku keseharian. Sosok inilah menurut Titik yang selalu dikenang.”Bapak juga mengajari bahwa menggambar itu bebas. Anak bebas berimajinasi menurut pengertian mereka. Sehingga menggambar itu untuk senang-senang, bukan menang lomba. Bapak juga menanamkan men-jadi pribadi yang mengedepan-kan rasa di dalam berperilaku serta berkontribusi dalam pembangunan negara,” tandas-nya. (*/laz/gp)

Boks