Mengikuti Rombongan Pemerintah Kota Jogja Ngangsu Kaweruh ke Kota Angin Mamiri (2)

Di sela studi banding ke Pemkot Makassar, rombongan Pemkot Jogja juga meluangkan waktu berziarah ke Makam Pangeran Diponegoro. Ya, sosok pahlawan nasional ini memang tidak hanya identik dengan Keraton Jogja atau Jawa saja. Pangeran Diponegoro juga punya kesan mendalam bagi masyarakat di kota angin mamiri itu.
HERU PRATOMO, Makassar
NAMA Jalan Pangeran Diponegoro mung-kin terdapat di hampir semua kota di Indo-nesia. Tetapi di Makassar, ruas Jalan Pang-eran Diponegoro lebih spesial. Hal itu ka-rena di Jalan Pangeran Diponegoro, tepat-nya di kampung Melayu, Wajo, Makassar, itulah terdapat tempat pemakaman umum (TPU), tempat Pangeran Diponegoro dike-bumikan.
Di antara kompleks toko-toko perniagaan, di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro Makassar terdapat kompleks pemakaman yang istimewa. Lokasi makam sang pang-eran yang tepat berada di pinggir salah satu ruas jalan utama di Makassar itu, ber-himpitan dengan toko-toko. Makam Pange-ran Diponegoro ditandai dengan gapura. Di situ tertulis ‘Makam Pahlawan Nasional Pengeran Diponegoro’.
Begitu memasuki kompleks makam, langs-ung terlihat dua makam besar dengan di-beri peneduh seperti joglo, di antara 89 makam lainnya. Dua makam yang besar merupakan makam Pangeran Diponegoro bersama istrinya, Raden Ayu (RA) Ratna Ningsih, enam makam putra-putrinya, tiga makam pengikutnya serta makam cucu dan cicit. Selain itu juga terdapat pendopo un-tuk menerima tamu dan tempat beristirahat penjaga makam. Menurut penjaga makam Pangeran Dipo-negoro R Muh Saleh, pada hari-hari biasa memang tidak banyak pengunjung yang berziarah.
Saleh yang juga canggah atau generasi keempat Pangeran Diponegoro di Sulawesi ini me-ngatakan, biasanya kunjungan ramai saat peringatan kemerde-kaan atau menjelang puasa. “Kalau pada hari biasa memang sepi, tapi kalau menjelang pe-ringatan 17 Agustus ramai yang berziarah,” ujar Saleh saat me-nemani rombongan Pemkot Jogja yang berziarah ke makam Pangeran Diponegoro. Pria be-rusia 69 tahun ini mengatakan, para peziarah tidak hanya ber-asal dari warga Makassar saja. Banyak pula peziarah yang be-rasal dari Jawa.
Setiap berkunjung ke Makassar, jelas Saleh, biasanya rombongan dari Jawa berziarah ke makam sang pangeran yang identik dengan jubah dan kudanya itu. Saleh mengatakan dari Keraton Jogja juga beberapa kali berziarah saat di Makassar. “Sultan Jogja (Sultan HB X) juga pernah ke sini sebelum menjadi raja,” jelasnya. Saleh menambahkan dulu Sri HB IX pernah berkeinginan me-mindahkan makam ke Jogja. Salah satu alasannya karena Pangeran Diponegoro merupa-kan putra Sultan Hamengku Buwono III. Tetapi, hal itu dito-lak oleh salah seorang tokoh Sulawesi Selatan saat itu, Jen-deral M.Yusuf.
Saleh mengisahkan, Jenderal M.Yusuf mengatakan tidak ada bedanya antara Jawa dan Su-lawesi. “Setelah itu (makam) tidak jadi dipindah,” terangnya. Pemakaman Pangeran Dipo-negoro yang dibuang ke Su-lawesi pada tahun 1830 di Ma-kassar, menurut Saleh, juga merupakan keinginannya sen-diri. Karena itu setelah mening-gal di Fort Roterdam Makassar pada 1855, Diponegoro kemu-dian dikebumikan di lokasi saat ini. Dulunya, jelas Saleh, kampung Melayu, Wajo, Makassar, ini ma-sih berupa hutan belantara. “Putra keempat Pangeran Di-ponegoro, RM Abdul Gani yang ditunjuk untuk merawat makam ini, hingga anak cucunya,” jelas Saleh yang mulai menjaga ma-kam mulai 1997 ini.
Untuk perawatan makam, pi-haknya masih mengandalkan bantuan dari Pemkot Makassar. Setiap bulan untuk perawatan makam diberi bantuan sebesar Rp 500 ribu, yang dirapel setiap tiga bulan. Kompleks makam Pangeran Diponegoro beberapa kali mengalami renovasi. “Ter-akhir renovasi dari Pangdam IV/Diponegoro beberapa tahun lalu,” ungkapnya. (*/laz/gp)

Boks