Apa Kabar Para Mantan Kepala Daerah di DIJ (2)

Toyo Santoso Dipo sudah genap tiga tahun meletakkan jabatannya sebagai Bupati Kulonprogo. Sosok yang memiliki pembawaan tenang, murah senyum dan dikenal tegas itu kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia benar-benar mengembalikan romantisme semangat mudanya yakni berternak dan bertani.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
KAMBING jenis Teksel asal Belanda itu begitu jinak di tangan mantan orang nomor satu di Kabupaten Kulonprogo ini. Kambing atau domba Taksel yang didatangkan dari Wonosobo itu menjadi salah hewan pilihan yang mampu mengembalikan romantisme masa muda Toyo S Dipo akan hobi beternaknya.
Kandang berdinding kayu menghadap ke timur itu terisi 12 ekor domba Teksel. Domba gembel yang memiliki ukuran raksasa. Berat hidupnya saja bisa mencapai 150 kilogram untuk pejantan, dan betina bisa mencapai 80 kg lebih.
“Saya ambil bibitnya dari Wonosobo. Yang di tengah itu pejantan, beratnya 100 kg lebih, itu berat hidup loh ya. Postur tubuhnya memang beda jauh dengan domba gembel lokal yang bobotnya paling hanya 30 kg sampai 40 kg saja,” terangnya.
Puas memberi makan domba Taksel, ia beralih memberi makan 1.200-an ikan gurami yang dipelihara di empat petak kolam belakang rumahnya. Selain itu ada 30 sapi yang dititipkan kepada warga di pinggiran desa. “Sapi sebentar lagi akan saya jual sekitar 20 ekor, mendekati Idul Adha besok,” imbuhnya.
Puluhan ekor burung perkutut kelangenan sang istri Toyo, Wiwik Ernawati, juga tak kalah menariknya. Beberapa sangkar yang tergantung di ruangan joglo dan teras belakang, menambah riuh dan syahdunya susana hari-hari Toyo bersama keluarga.
“Ruangan ini memang khusus untuk menerima tamu. Sejak pensiun, saya lebih banyak menerima tamu di sini. Jadi waktunya sebetulnya lebih padat dibanding saat menjabat bupati dulu. Ini karena jadi rujukan warga yang ingin bertukar pengalaman dan konsultasi soal apa saja ke saya,” bebernya.
Selain menikmati hobi berternak dan bertani, ia juga masih sangat bersemangat jika diajak berdiskusi soal budaya. Menurut Toyo, budaya harus diranah secara lengkap. Banyak sekali referensi buku yang disantapnya, hingga cukup rinci dan lengkap saat diminta menjelaskan soal nilai budaya. Bak guru matematika mengajarkan rumus inti hingga turunannya.
“Perlu saya luruskan, sekarang ini banyak tokoh maupun kelompok masyarakat kurang pas dalam menterjemahkan budaya. Budaya dipahami demikian sempitnya. Padahal, budaya sebagai cipta manusia yang akan menghasilkan peradaban. Artinya, kebudayaan itu harus bisa mengantarkan manusia menuju peradaban yang lebih baik dan maju,” terangnya.
Kreatif dan inovatif menjadi sebuah dasar manusia untuk mengembakan budaya dan harus dipelihara sebagai bentuk kebudayaan itu sendiri. Ia menilai ada yang naif ketika sebuah budaya baik, harus ditinggalkan karena sentimen legitimasi kekuasaan.
“Klompecapir atau cerdas cermat di tengah sawah itu baik, tapi kenapa tidak dilestarikan? Apa karena tinggalannya Orde Baru, repot kalau begitu. Masyarakat harus berpikir secara rasional, karena ada alasan yang jelas di balik rasionalitas, sehingga semuanya bisa mengarah ke muara tujuan yang baik. Mengubah pola pikir itu juga hasil budaya,” bebernya.
Disinggung soal politik, Toyo mengaku ingin berhenti dari politik praktis, namun hal itu sulit dilakukannya. Ini karena setiap hari masih banyak orang yang datang ke kepadanya, termasuk konsultasi di bidang politik.
“Saya juga masih ditawari menjadi penasihat DPD PDIP, dan untuk politik sebetulnya saya ingin ada regenerasi. Karena jika tidak ada organisasi, apa pun akan stagnan dan menuju kehancuran,” tandas Toyo. (*/laz)
Sulit ketika Ingin Berhenti dari Politik Praktis

Boks