Ajak Anak Muda untuk Kreasi Motif Modern

Membatik membutuhkan keuletan, ketekunan dan ketelitian yang tidak dapat dilakukan secara instan. Bukan hal mudah mengenalkan dan mengajak anak muda membatik. Namun soal motif, daya kreasi anak-anak muda tidak bisa dipandang sebelah mata.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
MENJELANG peringatan Hari Batik, Aso-siasi Perancang Pengusaha Mode Indone-sia (APPMI) DIJ dan Junior Chamber Inter-national (JCI) Jogja mengadakan pelatihan membatik. Acara yang berlangsung sehari pada Sabtu (13/9) di Jambuluwuk ini diikuti 100 anak-anak muda perkerja kreatifAda model, fashion desainer, koreografer, fotografer, Dimas Diajeng, fashionista, make up artist, hingga komunitas model jadul ikut mencanting motif kreasinya. “Awalnya memang agak sulit meyakinkan mereka, karena anak-anak muda ini terbiasa pada hal-hal yang instan,” ujar salah seorang trainer, Amin Hendra Wijaya. Pe-rancang senior yang konsisten mengangkat batik ini mengatakan, proses membatik memang bukan sesuatu yang bisa dikerjakan se-cara instan. Dalam sekejap bisa jadi. Namun, ada proses yang harus dilalui secara bertahap. Di situ harus ada ketekunan, kehati-hatian, keuletan dan ketelitian.
atian, keuletan dan ketelitian. Menurut Amin, anak-anak muda ini tidak bisa langsung diso-dorkan pada proses batik yang melalui beberapa tahapan dan membutuhkan waktu tidak sing-kat. Untuk itu, perlu mengambil langkah yang cepat, tanpa harus menyelup dan merebus. Tapi, prosesnya tetap ada mencanting. “Mereka megang canting saja masih kaku, masih seperti orang megang pensil,” ujarnya. Dika-takan, untuk para pemula, me-mang ekspektasi jangan dipatok terlalu tinggi. Setidaknya me-reka tahu prosesnya dan mau mengerjakan dengan senang hati. Dari situlah kecintaan pada batik dipupuk.
“Dari proses ini kita berikan nilai-nilai, batik tidak hanya selembar kain biasa, tetapi se-buah karya dengan filosofi dan karya yang indah,” ujar Amin. Jiwa seni itu sudah ada, maka biarkan anak-anak muda ini menuangkan ide kreatifnya menjadi motif batik. Memang bukan motif klasik yang dituntut pada mereka untuk dibuat, namun motif-motif modern. Seperti bentuk-bentuk flora yang dekat dan ada dalam imajina-sinya.
“Prosesnya kita sederhanakan, tanpa ada menyelup dan mere-bus, tapi kita gunakan teknik menyolet,” tambah Ketua APP-MI DIJ Lia Mustafa. Motif terlebih dahulu disketsa dengan desain yang disenangi. Dilanjutkan dengan menyolet menggunakan kuas, dan setelah itu baru mencanting mengguna-kan malam.
Pada pelatihan ini, ada sembilan warna batik yang juga diperke-nalkan. Seperti merah, kuning, hijau, bri, pink, orange, violet dan biru dongker dengan mengguna-kan indigosol dan rapid. “Setelah mencanting seselai, afiksasi dilakukan dua kali. Per-tama afiksasi dengan matahari, dan kedua dengan HCL untuk memunculkan warna asli,” tan-das Lia. (*/laz/gp)

Boks