Kenapa Harus Malu Pakai Kunir untuk Lulur
Dunia spa tidak semata soal kecantikan dan perawatan tubuh saja. Bagi Lastiani Warih Wulandari, ada sisi lain yang juga dapat menimbulkan manfaat berkesinambungan. Misalnya dalam hal produk. Mengembangkan produk berbahan herbal, Wulan, sapaannya, terpacu untuk mengajak masyarakat memanfaatkan tanaman herbal menjadi produk bernilai jual.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
TERBILANG sukses mengembangkan kosmetik tradisional melalui brand produk dan spa yang dirintisnya, yakni Putri Keda-ton, Wulan pun menggeser fokusnya. Tidak hanya mengembangkan bisnisnya, namun mengajak masyarakat untuk ikut mengang-kat kosmetik tradisional. “Masyarakat, khususnya ibu-ibu belum melihat tanaman herbal yang begitu mu-dahnya tumbuh di pekarangan rumah sebagai sebuah komoditi yang memiliki nilai jual,” ujarnya kepada Radar Jogja (17/9).
Kosmetik tradisional berbaha herbal mu-lai dia kembangkan sejak tahun 2008. Butuh perjuangan keras bagi dirinya mengangkat bahan-bahan herbal ini menjadi produk yang harus bersaing dengan produk instan berteknologi tinggi yang cenderung mengandung bahan kimia. Namun, kini tidak hanya tempat spa miliknya yang meng-gunakan produk kosmetik tradisional pro-duksinya. Produk perawatan tubuh dan kulit ini juga sudah masuk berbagai hotel berbintang dan dipasarkan hingga ke luar daerah.Ketika produk kosmetik tradisionalnya sudah diterima baik oleh pasar, Wulan gen-car melakukan pemberdayaan masyarakat dengan melakukan pelatihan pembuatan kosmetik tradisional.
“Ini sebagai bentuk pelesta-rian lingkungan juga, karena yang mereka manfaatkan apa yang mereka tanam di pekarangannya sendiri. Ketika tanamanan itu sudah dimanfaatkan, mereka bisa menanamnya kembali,” ujar Ketua Asosiasi Spa Terapis In-donesia (ASTI) DIJ ini.Dikatakan, program ini sebagai bentuk moral services responsi-bility Putri Kedaton kepada ma-syarakat. Untuk bersama-sama membangun pelatihan, keteram-pilan yang dampaknya pada aspek ekonomi, yakni pendapa-tan keluarga.Pelatihan pembuatan kosme-tik tradsisional dilakukan dengan memanfaatkan tanaman herbal yang pada dasarnya mudah se-kali di tanam. Namun memang pemahaman masyarakat belum semuanya sama.
“Misalnya kunir, itu mudah sekali tumbuh di pekarangan. Tapi biasanya hanya dimanfaat-kan sebatas sebagai bumbu masakan ataupun minuman. Padahal kunir juga punya nilai jual lebih dari itu,” ujar Wulan.Untuk program pemberdayaan masyarakat, dia tidak bekerja sen-diri, namun membangun jejaring untuk bersama-sama mengangkat tanaman herbal menjadi produk berkualitas. Wulan pun menggan-deng instansi terkait dan juga pe-merintah daerah.
Pengetahuan yang diberikan saat pelatihan, juga termasuk soal kualitas, dengan pengawasan apoteker dan sesuai standar in-dustri. Sehingga produk kosmetik tradisional yang sudah berhasil dibuat, akan dipasarkan kem-bali. Harapannya untuk terus menimbulkan manfaat yang ber-kesinambungan tetap berjalan.”Saya juga masih punya misi untuk mengangkat dan memper-kenalkan produk berbasis lokal ini bisa diterima masyarakat, se-hingga masyarakat juga tidak perlu malu menggunakan kunir untuk lulur. Harga terjangkau dan manfaatnya juga tidak kalah dengan yang berbasis teknologi, bahkan lebih aman karena tidak meng-gunakan bahan kimia,” tandas Wulan. (*/laz/gp)

Boks