JAKARTA – Salah satu komponen yang cukup penting dalam pengelolaan retail adalah pengendalian persediaan. Dalam operasional sehari hari seringkali manajemen mempunyai suatu pola bahwa semakin banyak barang dan bervariasi semakin baik.

”Maka dari itu, semakin konsumen terpuaskan dan bisa mengakibatkan omzet naik dan pelanggan bertambah seiring dengan kelengkapan produk,” ujar pencentus teori franchise pasif Tommy Andri Wardhana.

Tommy mengatakan, hal itu tidak salah, tapi bila dikaitkan kelengkapan barang dengan banyaknya SKU (stock keeping unit) atau barang yang harus berada di toko minimarket, maka akan menjadi boomerang ketika sales circular-nya tidak sesuai dengan stok barang yang ada.

”Bila dikaitkan dengan cash flow maka akan mengakibatkan toko menjadi bangkrut karena begitu banyak barang slow moving yang menumpuk,” jelasnya.

Oleh karena itu, untuk menangani masalah ini baik manajemen OK OCE ataupun para pelaku retail maupun para start-up yang ingin memiliki jaringan toko retail pertama tama harus mengkaji ulang dengan melakukan kontrol terhadap stok. ”Dengan cara melakukan kontrol terhadap persediaaan barang,” ujar Kreator dan Ideator serta implementator program kementerian koperasi SmescoMart ini.

Menurut Tommy, penetapan kuantitas maksimum sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan sebuah toko retail, sehingga tidak perlu menyimpan barang 10 per bulan bila kapasitas jual per bulan hanya 3 saja. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan Kuantitas Maksimum yang bisa di aplikasikan di dalam management retail OK OCE maupun manajemen retail pada umumnya. Di antaranya, mengetahui average sales per bulan dengan pasti dan Lead time atau tenggat waktu antara permintaan suatu barang dengan pemenuhan barang sampai di lokasi. Kemudian Safety stock, di sinilah dibutuhkan perhitungan yang detail dan teliti berapa banyak kita akan menumpuk cadangan barang dan barang mana saja yang akan kita tumpuk cadanganya dan bagaimana penangananya.

Safety stock atau cadangan barang haruslah dilihat timming nya sehingga bisa berubah dari waktu ke waktu tergantung season dan putaran arus barang serta trend keinginan konsumen terhadap barang tersebut dan terakhir adalah Minimum order berapa minimum order yang harus dibeli dari supplier.

Tommy yang juga menjadi Konsultan Management Jaringan Retail Franchise serta lisensi ini mengatakan, tidak masalah sekecil apapun toko yang dimiliki selama pandai me-manage hal diatas. ”Bahkan toko yang yang hanya 70 meter pun bisa lebih menguntungkan dari toko dengan luas 250 meter. Salah satu kuncinya adalah managing stock,” tutupnya. (*/ila)

Bisnis