BAHANA/RADAR JOGJA

MASUK DUSUN: Akhmad Gozali, agen BRILink di Dusun Pancar mempraktikkan cara melayani konsumen yang memanfaatkan layanan BRILink berupa pengisian pulsa.

MAGELANG – Sebagai bank terbesar di Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tidak pernah berhenti ber inovasi. Bank plat merah ini terus melakukan ekspansi dengan program-programnya. Tentu saja sejalan dengan program pemerintah, yaitu financial inclusion.BRI meluncurkan layanan BRILink. Yakni, layanan keuangan tanpa kantor alias nirkantor. Adapun lokasi launching layanan BRILink di Dusun Pancar, Desa Ngampeldento, Salaman, Kabupaten Magelang, pekan lalu (12/12). “Layanan BRILink merupakan sebuah inovasi dalam dunia keuangan. Khususnya, perbankan untuk mempermudah akses kepada masyarakat yang belum memiliki layanan perbankan atau unbanked people,” kata Direktur Bisnis UKM BRI Djarot Kusumayakti.
Selain Djarot, hadir pula Direktur Konsumer BRI A. Toni Soetirto, Komisaris Utama BRI Bunasor Sanim, dan Plt Sekda Kabupaten Magelang Agung Trijaya SH.Djarot meneruskan, BRILink me-rupakan terobosan yang dilakukan bank yang listing di bursa saham dengan kode BBRI tersebut. Tujuannya untuk mengedukasi Indonesia dalam pe-ngetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan melalui pemanfaatan produk dan layanan perbankan. Harapannya, masyarakat akan terbiasa dalam pe-ngelolaan keuangan yang diharapkan mendorong peningkatan taraf kesejah-teraan masyarakat dan efisiensi per-ekonomian Indonesia.
Sejauh ini, BRI telah menggandeng lebih dari 15.800 agen yang ada di Indonesia. Angka itu tidak berlebihan, mengingat jumlah desa di Indonesia lebih dari 70 ribu desa. Tahun depan, BRI menargetkan minimal 35 ribu agen atau setengah dari jumlah desa yang ada di Indonesia. “Target ini tidak muluk, satu agen untuk menggarap dua desa yang ada di Indonesia. Harapannya, setelah BRI mampu memiliki satelit sendiri, keter-gantungan pada operator tele komunikasi akan diminimalisir dan layanan real time mampu diberikan BRI,” tegas-nya.
Direktur Komersial BRI A. Toni Soetirto menambahkan, dari sisi keamanan, pasti sudah dipikirkan oleh perusahaan. Salah satunya, menggandeng per orangan atau usaha dan koperasi yang sudah menjadi nasabah setidaknya lima tahun. Kemudian, memiliki jenis usaha,dan mereka harus memiliki ID sebagai agen.Dari sisi transaksi, tahun ini dari 15.800 agen yang ada, rata-rata transaksi setiap hari sekitar 768 ribu dengan nilai transaksi mencapai Rp 632 miliar. Pada tahun depan, BRI memprediksi dengan 35 ribu agen, jumlah transaksi setiap hari sekitar 3,5 juta dengan nilai transaksi Rp 3 triliun. “Semua itu di luar transaksi lewat BRILink,” tegasnya.
Akhmad Gozali, agen BRILink di Dusun Pancar, Desa Ngampeldento, Salaman, Kabupaten Magelang mengaku ada perubahan signifikan dari bisnis toko kelontong yang digelutinya. Karena, setiap orang yang datang, tidak hanya melulu berbelanja, tetapi ada yang membutuhkan fasilitas lain. Mulai dari beli pulsa, bayar listrik, menarik dana, melakukan setoran, dan lain-nya. “Toko semakin dikenal. Masyarkat sini juga semakin terbantu, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kota ke camatan yang jauhnya 5 kilometer,” katanya.(bhn/hes/ong)

Bisnis