BANTUL – Para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang baru pertama kali mengikuti pa-meran merasakan dampak positif penyelenggaraan Jogja Trade Expo (JTE) di Jogja Expo Center (JEC). Penyelenggaraan JTE bisa men-jadi ajang promosi bagi para pela-ku usaha yang baru berkembang.Hal itulah yang dirasakan oleh pemilik Mbantul Mebel Hesti Subhan yang baru pertama kali merasakan pameran. Meski di hari kedua belum ada transaksi, setidaknya usaha mebel yang dirintis sejak 2010 lalu itu bisa dikenal oleh para pengunjung. “Transaksi memang belum ada, tapi yang bertanya-tanya sudah cukup banyak. Pameran seperti ini sangat membantu bagi UKM seperti saya,” kata Hesti kepada Radar Jogja kemarin (16/10).
Hesti menuturkan berdasarkan pengalaman para peserta yang sering mengikuti pameran, tran-saksi dilakukan seusai kegiatan. Biasanya para buyer akan memesan produk sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Menurutnya mi-nat pengunjung terhadap produk furnitur rumah tangga sangat tinggi. Masyarakat menginginkan harga furnitur yang lebih terjangkau dan berkualitas. Maka tak heran, harga produk-produk kerajinan mebel saat ini sangat bersaing.
“Tidak ada standar khusus soal harga. Sebab untuk kerajinan tergantung pemesanan para buyer. Kalau mereka berminat dengan model tertentu bisa jadi harga lebih tinggi,” terangnya.Terkait dengan produk, Hesti mengaku belum memiliki pangsa pasar ekspor. Sebab produk-pro-duk yang diproduksi masih ber-dasarkan pesanan-pesanan ins-tansi. “Dengan keikutsertaan di JTE semoga bisa mengenalkan produk sehingga bisa merambah pasar ekspor,” jelasnya.
Industri kelas menengah mera-sakan hal serupa dengan penye-lenggaraan JTE kali ini. Salah satu perusahaan aksesori batu Jolosu-tro juga sudah mulai ada respon positif dari para pengunjung.
Salah satu staf Jolosutro Ayu Nindya mengaku sudah ada be-berapa buyer mancanegara yang melakukan pemesanan. Buyer tersebut rata-rata berasal dari Singapura, Korea dan Tiongkok. “Sangat wajar bila peminatnya asal luar negeri. Produk beba-tuan ini rata-rata harganya jutaan. Bahkan batu dengan jenis Larimar harganya mencapai Rp 1 miliar,” jelas Ayu. (bhn/ila/ong)

Bisnis