RADAR JOGJA FILE

MASIH DIMINATI: Selain pakaian jadi bukan rajutan, komoditas ekspor yang mengalami kenaikan di antaranya perabot, penerangan rumah, mesin listrik dan barang-barang rajutan.

Efek Pameran, Naikkan Jumlah Buyer

JOGJA – Pakaian jadi bukan rajutan menjadi andalan produk ekspor DIJ ke berbagai negara belakangan ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas utama ekspor sampai Agustus lalu pakaian jadi bukan rajutan mencapai 39,35 persen.
Kepala BPS DIJ Bambang Kristianto menjelaskan nilai ekspor pakaian jadi bukan rajutan sebesar USD 9,767 juta meningkat dibandingkan bulan sebelumnya USD 8,874 juta. Sedangkan pada Agustus tahun sebelumnya nilai ekspor pakaian jadi bukan rajutan sebesar USD 6,500 juta.
“Efek berbagai pameran yang digelar memberikan dampak pada meningkatnya jumlah buyer dan nilai ekspor,” kata Bambang, kemarin (8/10).
Selain pakaian jadi, jelasnya, komoditas ekspor yang mengalami kenaikan di antaranya perabot, penerangan rumah, mesin listrik dan barang-barang rajutan. Secara umum nilai ekspor barang-barang tersebut naik 61,33 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Bambang mengungkapkan tiga negara tujuan ekspor utama masih didominasi oleh Amerika Serika (AS) sebesar 42,56 persen, Jepang 11,97 persen dan Jerman 11,32 persen. Sedangkan tiga negara penurunan ekspor yakni Australia sebesar 39,00 persen, Inggris 20,93 persen dan Kanada sebanyak 19,98 persen.
“Hanya saja untuk perkembangan ekspor terbesar dari bulan Juli ke Agustus ditempati oleh Korea Selatan sebesar 191,80 persen. Sementara perkembangan terbesar Agustus 2014 terhadap Agustus tahun lalu sebesar 326,77 dengan tujuan Belanda,” terangnya.
Sedangkan untuk nilai ekspor DIJ yang dikirim melalui beberapa pelabuhan di Indonesia pada Agustus sebesar USD 24,822 juta. Jumlah tersebut mengalami penurunan 1,79 persen dibanding sebelumnya sebesar USD 25,274 juta.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagko) DIJ Rahayu Sri Lestari menjelaskan sampai dengan Agustus tahun ini nilai ekspor DIJ mencapai USD 127,734 juta dengan jumlah eksportir sebanyak 253. Sedangkan pada tahun sebelumnya nilai ekspor sebesar USD 211,76 juta.
Dia menjelaskanAS masih menjadi negara penyumbang terbesar para buyer untuk produk-produk kerajinan dari DIJ. Meski sebelumnya sempat terjadi kendala dikarenakan krisis yang melanda AS.
“Banyak buyer ketika itu tidak bisa datang ke Indonesia untuk mengunjungi pameran-pameran produk perdagangan. Hal ini berakibat pada penurunan jumlah ekspor dari yang sebelumnya mencapai 60 persen kini hanya tinggal 20 persen saja,” jelasnya. (bhn/ila/jiong)

Bisnis