Bagian Bina Lingkungan, Ciptakan Lapangan Kerja

SLEMAN – Sebanyak 25 warga Kecamatan Temon Kulonprogo mendapatkan pelatihan otomotif selama satu minggu oleh PT Astra International-Honda Region Jogjakarta, Senin (22/9). Pelatihan yang digelar oleh PT Angkasapura I tersebut sebagai bentuk bina lingkungan terhadap kawasan yang nantinya akan dijadikan bandara baru di Kulonprogo.
Head of Corporate Social Responsibility (CSR) Angkasa Maryanto mengatakan para peserta merupakan pemuda putus sekolah dan pengangguran yang berdomisili di kecamatan ring I dan II tempat dibangunnya bandara. Sebelum mengikuti pelatihan, mereka harus melalui seleksi terlebih dahulu dari 41 orang yang sebelumnya telah mendaftar.
“Program CSR pelatihan seperti ini dilakukan di 13 bandara lain yang berada di bawah Angkasapura I,” terang Maryanto disela-sela kegiatan, kemarin.
Dia menjelaskan program pelatihan teknisi Honda ini sudah kali kelima diselenggarakan. Tahun ini, Angkasapura I mengalokasikan anggaran sebesar Rp 21 miliar untuk program CSR yang nantinya dibagikan kepada bandara-bandara dibawah Angkasapura I.
“Selain bina lingkungan, kami juga memiliki program kemitraan seperti penyaluran kredit kecil bagi usaha mikro. Setiap cabang bisa mendapat anggaran mencapai Rp 2 miliar. Jogjakarta, tahun ini dianggarkan Rp 1,3 miliar untuk bina lingkungannya,” terangnya.
Sejak 2005, jelasnya, program CSR bina lingkungan Angkasapura I di wilayah Jogjakarta sudah menghabiskan anggaran sebesar Rp 5 miliar. Selain pelatihan, program lain yang dilaksanakan seperti bantuan fisik dan renovasi bangunan.
Dia menjelaskan bagi peserta pelatihan yang mendapat nilai tertinggi dengan ranking 1, 2 dan 3 akan mendapat bantuan peralatan khusus. Juga tidak menutup kemungkinan ada program lanjutan. “Peralatan tersebut untuk modal meraka jika nantinya akan membuka usaha sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Technical Service Region Head PT Astra International Tbk-Honda Region Jogja Michael Zumanto menjelaskan masing-masing peserta akan dilatih selama satu minggu. Kemudian magang selama satu bulan di 13 Bengkel Ahass yang ada di DIJ.
“Separo lebih atau 50 persen peserta pelatihan tersebut terserap sebagai tenaga kerja di Ahass. Ada juga yang membuka usaha sendiri,” jelasnya.
Dia berharap para peserta yang telah lulus program pelatihan dapat membuka bengkel usaha sendiri. Cara tersebut sangat tepat sebagai usaha pengurangan terhadap pengangguran di Jogjakarta.
“Apalagi di kawasan Kulonprogo masih sangat minim. Dengan membuka bengkel baru, tentunya dapat menyerap lapangan pekerjaan,” jelasnya. (bhn/ila)

Bisnis