Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terus Berjuang meski Hadapi Masalah Sampah dan Abrasi

Editor Content • Selasa, 25 April 2023 | 13:37 WIB
TAK KENAL LELAH: Pengembangan hutan mangrove di Padukuhan Baros, Kretek, Bantul. Foto...Ketua Bidang Konservasi Hutan Mangrove KP2B Wawan Widia Ardi Susanto.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
TAK KENAL LELAH: Pengembangan hutan mangrove di Padukuhan Baros, Kretek, Bantul. Foto...Ketua Bidang Konservasi Hutan Mangrove KP2B Wawan Widia Ardi Susanto.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kehadiran hutan bakau atau mangrove di kawasan pesisir pantai sangat penting. Sadar dengan hal ini, sekelompok anak bernama Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) mengembangkan hutan bakau di Tirtohargo, Kretek, Bantul. Berbagai kendala pernah dihadapi mereka, namun tak pernah ada kata menyerah.

IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Bantul

Manfaat pohon bakau tidak hanya sekadar mencegah wilayah daratan terkena abrasi pantai. Lebih dari itu, tanaman dengan nama lain mangrove ini juga dapat menetralisasi kadar garam dalam air laut. Sehingga wilayah pertanian di sekitar pantai pun bisa tumbuh subur untuk berbagai jenis tanaman. Hal itu yang mendorong KP2B untuk terus mengembangkan tanaman bakau di Tirtohargo, khususnya Padukuhan Baros.

Ketua Bidang Konservasi Hutan Mangrove KP2B Wawan Widia Ardi Susanto mengatakan, pihaknya kini fokus untuk pengembangan bakau di Baros. Ada tiga jenis mangrove yang dikembangkan, yakni Avicennia, Rhizophora, dan Sonneratia.

Ia menerangkan, ketiga jenis mangrove itu juga memiliki peran masing-masing. Ada mangrove yang bertugas mengeringkan tanah untuk mencegah abrasi, ada bakau yang menjadi tempat berkembang biak ikan, dan ada pula bakau yang berfungsi menetralisasi kadar garam air laut.

Dalam upaya itu, KP2B sampai saat ini masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya kurang optimalnya perkembangan bakau di kawasan pesisir selatan. Karena meski upaya pengembangan sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu, baru ada 3,5 hektare lahan yang berhasil menjadi hutan bakau.
"Kalau ditanami semua (target hutan bakau) itu sekitar 10-15 hektare untuk wilayah Tirtohargo. Jadi bisa dikatakan masih kurang sekali," ujar Wawan saat ditemui Radar Jogja (16/4).

Menurutnya, ada berbagai faktor kenapa tanaman mangrove sulit berkembang di pesisir pantai selatan. Di antaranya karena faktor abrasi yang berpindah-pindah lantaran situasi alam di muara Sungai Opak. Hal itu membuat bibit mangrove yang baru ditanam bisa kapan saja terhempas ombak.

Menyiasati permasalahan itu, Wawan lebih memilih mengoptimalkan dahulu pengembangan hutan mangrove di sisi barat Pantai Baros. Wilayah itu dipilih karena abrasi yang terjadi lebih sedikit. Untuk bibit dipilih jenis dengan akar kuat seperti Rhizophora dan Avicennia.

Kemudian, KP2B juga menghadapi masalah sampah yang dibawa aliran sungai. Kehadiran sampah di kawasan konservasi dapat menghambat pertumbuhan mangrove. Di sisi lain juga mengancam ekosistem alam hutan bakau.

Meski begitu, Wawan dan sejawatnya tidak pernah putus asa mengembangkan hutan mangrove. Ia pun berusaha menggandeng berbagai pihak untuk ikut melakukan penanaman melalui program corporate social responsibility (CSR).
"Biasanya setiap tahun ada program atau penawaran CSR dari pemerintah dan perusahaan, pasti kami terima. Dengan upaya itu, penanaman bisa dilakukan dengan volume besar," bebernya. (laz) Editor : Editor Content
#Lestarikan Hutan Mangrove #Padukuhan Baros #kretek #Bantul