RADAR JOGJA - Antusias pengguna bus Trans Jogja rute baru Palbapang-Malioboro tergolong tinggi. Dinas Perhubungan DIJ mencatat per hari ada 1.500 orang yang menggunakan moda transportasi untuk jalur baru ini.
"(Itu, Red) hari normal, kalau libur biasanya 2.000 lebih," ujar Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub DIJ Sumariyoto kemarin (10/4).
Rute baru Trans Jogja Palbapang-Malioboro resmi diluncurkan pada September 2022. Rute ini merupakan terobosan baru untuk menghubungkan kota ke kabupaten. Salah satunya bertujuan untuk mengembangkan kawasan selatan DIJ. "Yang jelas baru ke Bantul, itu memang sesuai visi misi Pak Gubernur untuk pengembangan wilayah selatan," tegasnya.
Sumariyoto menyebut total armada Trans Jogja ada 128 unit yang tersebar di wilayah perkotaan. Pada rute baru ini, setidaknya ada 10 armada yang beroperasi setiap harinya. "Satu bus bisa 6-7 rute,” lanjutnya.
Penumpangnya beragama mulai dari warga Bantul hingga wisatawan lokal. Dia berharap warga dapat memanfaatkan rute ini sebagai salah satu cara mengurangi kemacetan di DIJ.
Seorang warga Bantul, Rere, 30, mengaku antusias dengan adanya rute baru ini. Beberapa kali dia memanfaatkannya untuk berangkat kerja di Kota Jogja. "Pernah naik, belum lama ini. Kalau orang situ termasuk aku senang karena ada opsi (pilihan) pakai angkutan umum. Ramai terutama weekend banyak yang orang desa jalan-jalan. Cukup ramai," jelasnya.
Menurutnya banyak warga memanfaatkan Trans Jogja untuk bekerja. Biasanya motor di parkir di Terminal Palbapang kemudian berangkat menggunakan Trans Jogja. Menurutnya hal itu menguntungkan dan praktis. Meski begitu dia tidak memanfaatkan setiap hari karena rute kerjanya agak memutar jauh. Dia berharap ke depan rute lebih beragam. "Pulangnya (dari kerja, Red) naik trans lagi. Aku balik jam 20.00 itu banyak juga, kebak. Kayaknya pekerja gitu mereka bawa helm gitu," jelasnya.
Rere berharap, agar fasilitas pemberhentian ditambah. Sehingga berdampak bagi minat warga. Sejauh pengamatannya tidak ada halte kecil untuk turun di sepanjang Jalan Bantul. "Belum ada halte, jadi berhenti pinggir jalan. Makanya turun dari depan. Karena kalau turun pintu tengah itu tinggi," ujarnya. (lan/eno) Editor : Editor Content