Koordinator SAR Satlinmas Wilayah III Parangtritis Arief Nugraha mengatakan, jumlah palung laut yang mengakibatkan rip current (arus pecah) di Pantai Parangtritis memiliki sifat berubah-ubah dan dapat berpindah setiap harinya. Hal itu pula yang membuat adanya larangan berenang saat di pantai.
Meskipun sulit dihitung, menurut Arief, kehadiran palung laut sebenarnya bisa dideteksi. Dengan melihat kondisi ombak yang datang. Namun tentu hal itu cukup sulit diketahui oleh masyarakat awam. Terlebih jika wisatawan sama sekali belum mengetahui karakter pantai selatan.
Dia membeberkan, dari Januari hingga Februari, setidaknya sudah ada lima kejadian dengan enam korban kecelakaan laut (laka laut) di Pantai Parangtritis. Banyaknya kejadian itu lantaran masih adanya wisatawan yang tidak menaati rambu-rambu larangan yang sudah dipasang petugas SAR.
"Beruntung semua korban laka laut selama Januari hingga Februari berhasil diselamatkan. Jadi tidak ada wisatawan yang meninggal dunia di tahun 2023 ini," ujar Arief kepada Radar Jogja kemarin (26/2).
Arief menyebut dari lima kejadian itu, tiga di antaranya bahkan terjadi pada pekan ini. Adapun laka laut terbaru terjadi pada Sabtu (25/2) dengan korban warga Minggir, Sleman berinisial DL,14, dan AAD, 14. Kedua anak-anak itu secara tidak sadar terbawa ombak sampai ke tengah laut ketika sedang asyik bermain air di pantai. Beruntung keduanya berhasil diselamatkan.
Di hari sebelumnya, atau tepatnya pada Selasa (21/2), pelajar asal Kediri berinisial AAP, 15 juga terseret ombak pantai selatan dan berhasil diselamatkan oleh petugas. Kemudian sehari sebelumnya atau pada Senin (20/2), wisatawan asal Prancis bernama Piorre Francois, 37, bersama rekannya Listyorini, 32, warga Kota Depok, Jawa Barat. Mereka juga berhasil diselamatkan dari keganasan palung pantai selatan.
"Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Parangtritis harus selalu waspada. Sebab palung laut tetap menjadi ancaman walaupun gelombangnya tenang," pesan Arief.
Selain bahaya palung laut, Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Setyoajie Prayoedhi sebelumnya sempat mengatakan, wilayah pesisir pantai selatan juga memiliki potensi bencana lain. Yakni gempa bumi tektonik yang dapat mengakibatkan bencana tsunami.
Hal itu lantaran wilayah pesisir selatan merupakan zona subduksi. Di mana zona tersebut menyimpan potensi gempa dengan kekuatan mencapai 8,8 skala richter yang dapat memicu tsunami. Dari hasil pemetaannya, seluruh wilayah pesisir Bantul bisa mendapat dampak tersebut. Namun ada dua wilayah yang berpotensi paling parah yakni Kapanewon Srandakan dan Kretek.
Dia menjelaskan, dua kapanewon itu bisa mendapat dampak paling parah bencana tsunami karena memiliki aliran Sungai Opak dan Sungai Progo. Kehadiran dua sungai tersebut menurutnya dapat membuat air dari laut dapat langsung menuju ke daratan. "Sungai itu ibarat jalan tolnya tsunami, jadi biasanya daerah sepanjang sungai mengalami landaan tsunami cukup signifikan (parah, Red)," tandasnya. (inu/eno) Editor : Editor Content