Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo ST menyebut, rancangan APBD 2023 memprioritaskan tiga sektor. Yakni, perindustrian, pertanian, dan pariwisata. Tiga sektor ini menghidupi mayoritas warga Bumi Projotamansari. "Sehingga tiga sektor ini harus digenjot agar segera kembali bangkit," tegas Hanung di ruang kerjanya kemarin (26/9).
Menurutnya, rancangan APBD 2023 bakal segera dibahas. DPRD Bantul telah mengambil keputusan kebijakan umum anggaran prioritas dan plafon anggaran sementara (KUA-PPAS) 2023 11 Agustus. Pembahasan itu, antara lain, bertujuan untuk mengurangi defisit. Ya, dari KUA-PPAS 2023 diketahui ada defisit cukup besar. Mencapai 9,89 persen. Atau sekitar Rp 203 miliar. Padahal, defisit tak boleh lebih dari 4,5 persen. "Proyeksinya, APBD 2023 nanti sekitar Rp 2,2 triliun," sebutnya.
Politikus PDI Perjuangan ini berpendapat mengurangi defisit bukan perkara sulit. Salah satu caranya dengan mengurangi belanja. Di sisi lain, potensi pendapatan daerah juga harus digenjot. "Rumus sederhananya seperti itu," ujarnya.
Kendati begitu, Hanung menekankan, mengurangi belanja tidak serta-merta dengan mencoret beberapa rencana program kegiatan. Pencoretan itu harus melalui serangkaian pertimbangan. Antara lain, memperhatikan indikator kinerja utama (IKU) bupati - wakil bupati. "IKU-nya bupati - wakil bupati pada tahun 2023 itu wajib dilaksanakan. Tidak boleh diotak-atik," ingatnya.
Hanung tak menampik penyusunan rancangan APBD 2023 melalui proses panjang. Dimulai dari musyawarah rencana pembangunan (musrenbang), penyusunan rencana kerja pemerintah daerah, hingga KUA-PPAS. Belum lagi usulan program anggota DPRD melalui instrumen pokok pikiran. "Jadi, program yang sudah masuk rancangan APBD sebenarnya merupakan program penting," katanya.
Kendati begitu, Hanung mengingatkan, kemampuan keuangan daerah harus diperhatikan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Konsekuensinya, beberapa program dalam rancangan APBD 2023 yang bisa ditunda pelaksanaannya terpaksa akan dicoret. "Agar defisitnya maksimal 4,5 persen," sebutnya.
Politikus yang tinggal di Kapanewon Sewon ini berpendapat rancangan APBD 2023 yang memprioritaskan tiga sektor sangat beralasan. Sektor pariwisata, contohnya. Sektor ini menjadi salah satu andalan penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Di mana pada 2022 dipatok Rp 32 miliar. "Berapa jumlah pelaku wisata di objek wisata (obwis) yang dipatok retribusi seperti Pantai Parangtritis yang akan merasakan manfaat ekonominya?" ujarnya.
Menurutnya, destinasi di Bumi Projotamansari tidak hanya obwis yang dikelola pemkab. Jumlah destinasi yang dikelola masyarakat jauh lebih banyak. Hutan pinus Mangunan, misalnya. Keberadaan destinasi ini terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Kapanewon Dlingo. "Ada yang membuka warung kuliner. Ada juga yang jualan oleh-oleh," katanya.
Pun dengan sektor pertanian. Hanung menyebut ada puluhan ribu warga Kabupaten Bantul yang berprofesi sebagai petani. Sehingga pemkab perlu untuk menggelontorkan berbagai program yang menopang sektor pertanian. Mulai pembangunan infrastruktur saluran irigasi, pemberian bantuan alat mesin pertanian, hingga peningkatan sumber daya manusia petani. "Dengan memberikan program pelatihan dan pendampingan diversifikasi pertanian," jelasnya.
Jika fokus APBD 2023 terealisasi, Hanung meyakini pemulihan ekonomi di Kabupaten Bantul bisa berjalan lebih cepat. Dengan begitu, harapan pemerintah pusat melalui tagline pulih lebih cepat bangkit lebih kuat bisa terealisasi. "Sehingga masyarakat bisa sejahtera kembali setelah dihajar pandemi Covid-19," harapnya. (sce/zam/ila) Editor : Administrator