Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Nur Subiyantoro

Editor News • Rabu, 30 Maret 2022 | 22:54 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Laju Protaba U-13 di turnamen Piala Soeratin U-13 Nasional harus terhenti di babak perempat final. Protaba U-13 kalah melalui adu tos-tosan ketika menghadapi wakilan Asprov PSSI Banten.

Kendati begitu, capaian Protaba U-13 ini layak diacungi jempol. Lantaran Protaba U-13 merupakan kesebelasan pertama dari DIJ yang bisa lolos dari fase grup.

"Ini capaian bersejarah," jelas Wakil Ketua I DPRD Bantul Nur Subiyantoro di ruang kerjanya kemarin (28/3).

Biasanya, Nur menyebut, kesebelasan dari DIJ selalu gugur di fase grup. Baru Protaba U-13 yang bisa melenggang hingga ke fase knock out. Bahkan, Protaba U-13 pada gelaran Piala Soeratin U-13 2022 mampu mencapai babak delapan besar.

Dari pengalaman Piala Soeratin U-13, manajer Protaba U-13 ini menyebut, kualitas sepak bola DIJ kalah jauh dibanding beberapa daerah lain. Sebut saja Jawa Barat dan Banten. Itu akibat pembinaan pemain usia dini di Bumi Projotamansari yang belum tergarap serius.

Dari babak 16 besar hingga delapan besar, politikus Partai Gerindra ini mengungkapkan, Protaba U-13 pernah menghadapi beberapa kesebelasan. Di antaranya kesebelasan wakil Asprov PSSI Banten. Dari pertandingan itu terlihat, skill hingga fisik pemain Protaba U-13 kalah.

"Mereka (pemain Banten, Red) jebolan akademi Persitara," ungkapnya.

Bekas lurah Pleret ini memaklumi jika para pemainnya kalah skill hingga fisik. Maklum, pemain lawan rata-rata merupakan jebolan akademi klub-klub besar. Pemain wakil Asprov PSSI Jawa Barat, contohnya, merupakan jebolan akademi Persib Bandung. Di sisi lain, pemain Protaba U-13 hanya jebolan beberapa sekolah sepak bola (SSB).

"SSB di Bantul sebenarnya sudah bagus," ujarnya.

Nur berpendapat keberadaan SSB tidak cukup untuk melahirkan bibit-bibit pemain berkualitas. Berkaca dari daerah lain, Kabupaten Bantul perlu memiliki akademi sepak bola.

"Kabupaten Bantul belum punya," katanya.

Kenapa membutuhkan akademi? Bagi Nur, pembinaan pemain usia dini idealnya memang melalui akademi. Lantaran akademi memiliki kurikulum mapan. Tidak hanya skill, akademi juga memperhatikan fisik para pemain. Termasuk postur tubuhnya.

"Latihannya setiap hari. Waktunya pagi dan sore," tuturnya.

Di sisi lain, SSB memang juga menggembleng pemain usia dini. Hanya, waktunya terbatas.

"Di SSB paling latihannya hanya dua hingga tiga kali seminggu," katanya.

Karena itu, politikus yang tinggal di Kapanewon Pleret ini menegaskan, Kabupaten Bantul perlu memiliki akademi sepak bola. Sebab, Kabupaten Bantul memiliki potensi melahirkan bibit-bibit pemain unggul. Itu terlihat dari prestasinya. Di Popda (pekan olahraga pelajar daerah), contohnya. Tim sepak bola Bantul pernah menjadi juara dua kali berturut-turut.

Belum lagi capaian Protaba U-13 terbaru di Piala Soeratin. Belum ada tim lain di DIJ yang mampu lolos dari fase grup. Padahal, persiapan Protaba U-13 saat itu sangat mepet.

"Proses seleksi memanggil para pemain hanya sebentar," ucapnya.

Menurutnya, pemkab bisa mengambil peran dengan membentuk akademi sepak bola. Hanya, anggaran yang dibutuhkan memang tidak kecil.

"Tapi, kalau ada akademi, para pemain usia dini kita bisa lebih terarah," katanya.

Nur sangat bermimpi bisa mewujudkan akademi sepak bola di Kabupaten Bantul. Saking inginnya, Nur bersedia mempersiapkan lahan miliknya untuk dijadikan tempat akademi.

"Kalau ada investor yang tertarik bisa memakainya," jelasnya.

Menurutnya, membangun akademi sepak bola bisa diwujudkan pemkab atau investor. Toh, tujuan pemkab dan investor sama-sama ingin memajukan persepakbolaan di Bantul. Terutama melahirkan bibit-bibit pemain usia dini.

"Agar sepak bola Bantul bisa berbicara lebih jauh di level nasional," harapnya. (Vis/zam/dwi) Editor : Editor News
#DPRD Bantul #Nur Subiyantoro #Piala Soeratin U13 #ProtababU-13