Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ganti Air Kolam Usai Hujan

Editor Content • Senin, 12 Oktober 2020 | 20:45 WIB
BERKERUMUN: Ikan hias jenis koi langsung mendekat saat Ismayadi memberi pakan (7/10).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
BERKERUMUN: Ikan hias jenis koi langsung mendekat saat Ismayadi memberi pakan (7/10).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA – Memasuki musim penghujan, pembudidaya ikan menyimpan kecemasan tersendiri. Sebab kepekatan air dalam kolam dapat berubah secara drastis, bila terguyur hujan. Tanpa perhatian ekstra, pembudidayaan bisa saja gagal.

 

Pembudidaya ikan hias Ismayadi misalnya. Pria 45 tahun ini mengaku bekerja ekstra saat musim penghujan. Sebab harus mengganti air kolam usai hujan mengguyur. “Awal musim hujan sangat riskan, terutama bagi ikan usia muda,” keluhnya saat ditemui di kolam budidaya ikannya, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul Minggu (7/10).

 

Hujan membuat kepekatan air dalam kolam berubah. Apalagi jika kolam terguyur hujan selama 3-5 jam. Perubahan yang kontras ini dapat membuat ikan mengambang selama 2-3 hari. Lalu mati. Bila demikian, pembudidaya tentu merugi. “Hujan pertama, kedua, dan ketiga itu hancur, biasanya ikannya. Karena kan seleksi alam juga. Tapi kalau ikan yang hidup di sungai nggak masalah,” jelasnya. Namun, setelah hujan turun 6-7 kali, ikan sudah dapat beradaptasi secara mandiri.

 

Selain itu, permasalahan yang harus dihadapi oleh Ismayadi saat musim penghujan adalah kerapnya listrik padam. “Kalau hujan sering mati lampu. Saya pernah dulu, Ikan habis-habisan. Gara-gara hujan dan mati lampu, pompa air nggak bisa nyala. Itu mulai dari nol lagi,” sesalnya. Untuk itu, Ismayadi saat ini menyiasati hal itu dengan membeli genset. Jadi saat listrik padam, dia tidak risau ikan yang dibudidayakannya musnah. “Itu saya pembelajaran betul,” tambahnya.

 

 

Musim penghujan juga membuat resah pembudidaya udang Arif Rahman Muhlisin. Sebab saat musim penghujan membuat salinitas air asin berkurang, yang artinya, ph air pun berkurang. Maka udang yang dibudidayakan rawan terkena penyakit. Penyakit yang kerap menyerang udang saat salinitas buruk adalah mio dan berak putih.

 

Udang yang terkena mio, ekornya berwarna merah. Karena ekornya tidak dapat bergerak. Sehingga udang hanya dapat menggerakkan tangannya untuk bermobilisasi. Udang ini berada pada keadaan lemah, sehingga kerap menjadi mangsa udang lainnya. “Jadi missal kena mio pagi, besok yang mati di tengah bisa 2 sampai 3 kilogram. Nggak ada obatnya, jadi biasanya langsung dipanen,” jelas Arif.

 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kelautan dan Perikanan Diperpautkan Bantul Istriyani meyakini, pembudidaya ikan sudah paham. Kadar air akan menjadi lebih asam. Sehingga pembudidaya sudah paham pula, treatment yang cocok untuk menangani hal tersebut. Selain itu, Diperpautkan sudah ada membuat surat edaran yang disampaikan pada bidang perikanan dan pertanian. Terkait dengan datangnya musim hujan yang harus diantisipasi. (cr2/bah)

  Editor : Editor Content
#perikanan #Kolam Air #Bantul #budidaya ikan