RADAR JOGJA - Bantaran Kali Celeng yang menjadi langganan banjir saat musim penghujan dikeluhkan Kepala Dusun Tilaman, Wukirsari, Imogiri, Bantul R. Suhendri Haruno. Karakteristik sungai yang kerap tiba-tiba banjir ini disebut mirip babi hutan atau dalam Bahasa Jawa disebut celeng. “Kan celeng nek mlayu sak-sake (babi hutan kalau berlari tidak tahu arah, Red),” sebut Hendri, sapaan akrabnya, saat ditemui di rumahnya, Tilaman, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Minggu (28/9).
Ambil contoh banjir bandang pada Maret tahun lalu. Suasana di padukuhan dengan jumlah kepala keluarga (KK) sekitar 200-an itu cerah. Warga belum memperhatikan debit air. Tapi saat sore, suasana mulai mendung. Air terpantau meningkat saat magrib dan hujan mulai turun. “Puncaknya habis isya, tiba-tiba pagar rumah roboh.
Banjir itu, disebut Hendri, merupakan banjir terbesar akibat luapan Kali Celeng. Pagar rumahnya yang terbuat dari susunan bata sampai roboh. Tinggi genangan air yang masuk rumahnya sekitar 1,5 meter. “Dampak dari banjir masih saya rasakan sampai dua bulan sesudah kejadian,” kenangnya. Kendati banjir hanya berlangsung sekitar tiga jam, terdapat tiga RT di Tilaman yang terendam air, yaitu RT 1, 2, dan 4. “Karena RT 3 ada di perbukitan, tidak kena banjir tapi longsor,” ucapnya.
Pembangunan di kawasan perbukitan, disebut Hendri, sebagai pemicu banjir dan longsor. Sebab daerah resapan menjadi berkurang. Maka otomatis air langsung mengalir ke sungai. “Pembangunan pariwisata di Dlingo, nggak cuma cukup tapi banget (berkontribusi terhadap banjir, Red),” kata Hendri.
Kepala DLH Ari Budi Nugroho menjelaskan, pengembangan wisata terhadap lingkungan itu ibarat dua sisi mata uang. Saling berpengaruh dan terikat. Sehingga dibutuhkan komunikasi dan koordinasi. Kegiatan pariwisata adalah kegiatan yang mengumpulkan massa. Karenanya akan ada aktivitas yang berdampak terhadap lingkungan. “Terkait dampak lingkungan ada yang disebabkan pengelola dan pengunjung,” ucapnya.
Selain dari aspek pengelolaan sampah, pariwisata juga dapat berdampak pada ekosistem di sekitarnya. Jumlah pengunjung yang tinggi menuntut ketersediaan fasilitas pendukung pariwisata. “Pengunjung banyak harus disediakan sarana dan prasarana. Itu butuh ruang untuk bangun warung, pendopo dengan ngelongi (mengurangi) pohon,” jelasnya.
Ari menyatakan, DLH sudah melakukan kajian dampak pariwisata terhdap lingkungan sekitarnya. Dampak dari kegiatan pariwisata di Dlingo pun telah dirasakan. “Ada yang menyampaikan, saiki kok nek munggah kok panas ya (sekarang kalau naik kok panas, Red),” tambahnya.
Sudah ada pula UU yang mengatur penataan ruang, lingkungan hidup, dan rencana tata ruang wilayah. DLH pun mengarahkan pengembang wisata untuk memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. “Tapi bagaimana pun juga, kegiatan apa pun itu pasti berdampak terhadap lingkungannya. Cuma bagaimana dampak tidak meluas dan terlokalisasi. Kalau membuka harus dimbangi dengan penanaman pohonnya, penguatan drainasenya,” katanya.
Ari juga menghimbau pengembang pariwisata untuk melaporkan kegiatannya pada DLH. Usaha kecil yang luasnya kurang dari 400 meter persegi cukup dengan membuat surat pernyataan pengelolaan lingkungan. Untuk usaha kurang dari 1 hektare harus membuat dokumen pengelolaan lingkungan. Dan lebih dari 1 hektare harus memiliki Amdal. “Karena menggunakan alam, kita harus baik kepada alam,” pesannya.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (SDA DPUPKP) Bantul Yitno membenarkan, luapan Kali Celeng tidak dapat diprediksi. Kendati tidak dilibatkan langsung, dia menyebut mitigasi banjir Kali Celeng sudah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), dengan pembuatan embung di Wukirsari. “Tepatnya di selatan Balai Desa Wukirsari, di pinggiran Kali Celeng,” sebutnya saat dijumpai di kantornya, Senin (28/9).
Embung itu diharapkan dapat menjadi terminal. Guna menampung derasnya aliran air dari arah perbukitan sebelum ke Kali Celeng. Disebutkan pula BBWSSO membangun talut di bantaran Kali Celeng. Tepatnya dari sebelah Polsek Imogiri ke arah utara. Sementara yang sudah dilakukan DPUPKP adalah melakukan penguatan tebing. “Sudah dipikirkan yang rawan longsor atau rawan meluap. Harapannya aliran sungai tidak berdampak buruk seperti tahun kemarin,” katanya. (cr2/laz)
Editor : Editor Content