BANTUL - Okupansi hotel di Bantul saat libur panjang Imlek mengalami penurunan sekitar lima hingga tujuh persen dibandingkan tahun lalu. Hal ini dipengaruhi dengan hari raya yang hampir bersamaan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo mengatakan, okupansi hotel pada libur Imlek tahun ini berada di angka 50 persen. Sedangkan tahun lalu mencapai 55 hingga 60 persen.
Turunnya okupansi hotel saat libur Imlek, kata dia, disebabkan umat Kristiani yang melaksanakan Imlek. Sementara umat Muslim bersiap menghadipi puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Membuat umat muslim cenderung menahan pengeluaran saat libur Imlek. “Selain itu, tahun lalu juga ngga ada isu-isu MBG, jadi lebih tinggi," katanya.
Saat ini, lanjutnya, adanya isu tersebut berdampak menurunnya daya belanja wisatawan. Meski demikian, Yohanes menyebut sempat terjadi lonjakan okupansi di awal libur. “Memang sempat terjadi lonjakan, tetapi setelah Minggu ke Senin sudah mulai landai,” tuturnya.
Sementara itu, saat Ramadan, hotel dan restoran di Kabupaten Bantul setiap tahunnya selalu memiliki program untuk menarik pengunjung agar okupansi dapat naik. Biasanya, saat Ramadan disiapkan paket iftar untuk buka puasa yang kemudian dilanjutkan dengan paket syawalan.
Yohanes berharap, bulan Ramadan ini pendapatan atau omzet hotel dan restoran di Kabupaten Bantul dapat meningkat. Menurutnya, peningkatan omzet akan berdampak langsung pada kesejahteraan sumber daya manusia di masing-masing properti.
Terpisah, Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan, terdapat peningkatan kunjungan mencapai 66 persen saat libur Imlek dibanding hari biasa.
Total kunjungan wisatawan saat libur panjang Imlek terhitung sejak tanggal 13-17 Februari mencapai 30.182 orang. Sedangkan di hari biasa pada periode yang sama berjumlah 18.159 orang. “Pendapatan asli daerah pada sektor pariwisata di libur Imlek ini mencapai Rp 430 juta,” tuturnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita