Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sandiwara Bahasa Jawa 'Tergoda' Dipentaskan di Tengah Kampung di Bantul; Jadi Hiburan dan Pelajaran dalam Bermasyarakat

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 8 Februari 2026 | 20:51 WIB

 

PELESTARIAN: Salah satu adegan dalam sandiwara Bahasa Jawa Serbet di Godegan RT 10, Brajan, Tamantirto, Jumat (6/2) malam.
PELESTARIAN: Salah satu adegan dalam sandiwara Bahasa Jawa Serbet di Godegan RT 10, Brajan, Tamantirto, Jumat (6/2) malam.

BANTUL - Problematikan sederhana yang ada di tengah masyarakat memang menarik untuk dibahas. Mulai utang-piutang, perselingkuhan hingga konflik kecil antartetangga itu dibawa ke atas panggung dan disajikan dalam pertunjukan oleh Kelompok Sandiwara Bahasa Jawa Serbet.

 

Rumah warga di tengah Kampung Godegan RT 10, Brajan, Tamantirto, Jumat (6/2) malam itu dipenuhi warga. Halaman rumah disulap menjadi panggung pertunjukan lengkap dengan properti maupun lampu panggung. Para warga berkumpul di halaman rumah tersebut, menunggu 'kelir' pertunjukan dibuka.


Kelompok Sandiwara Bahasa Jawa Serbet malam itu mementaskan pertunjukan berjudul Tergoda. Ada sekitar 10 aktor yang menjadi pemeran.


Sutradara pertunjukan Sanusi Serbet Budaya mengatakan, naskah sandiwara Bahasa Jawa Tergoda ditulis oleh Mbah Kemo. Naskah diambil karena muatan substansinya yang ringan, namun tetap menghibur masyarakat.


"Kesenian rakyat itu yang penting menghibur. Kami di sini niatnya menghibur masyarakat Godegan, tidak lebih," ujarnya saat dihubungi pascaacara, Jumat (6/2).


Tidak ada isu spesifik yang diangkat dalam pertunjukan. Pesan yang bisa diambil adalah bagaimana masyarakat bisa memanajemen konflik. Penyelesaian masalah kecil bisa dilakukan dengan musyawarah dan tak perlu dengan kekerasan.


"Jangan melihat sesuatu itu dari kulitnya. Itu kunci agar damai dalam bermasayarakat," bebernya.


Menariknya, seluruh pemain dalam pertunjukan tersebut merupakan anak muda generasi Z. Sutradara sengaja memilih aktor anak muda karena sekaligus memantik mereka agar mau meneruskan pelestarian sandiwara bahasa Jawa yang saat ini jarang ditemukan.


"Pementasan sandiwara Bahasa Jawa kan saat ini memang jarang," paparnya.


Pertunjukan kurang lebih berjalan selama 90 menit. Penonton yang datang pun semakin banyak. Keriuhan dan gelak tawa mereka seringkali menggema di sekitar lokasi ketika terdapat adegan lucu yang mengundang tawa.


Setelah pementasan itu, rencananya mereka akan berkeliling ke kampung-kampung untuk mementaskannya ulang. Itu mereka nilai sebagai salah satu upaya untuk melestarikan sandiwara Bahasa Jawa.


"Kalau ada yang mau atau bersedia dipakai kampungnya untuk pentas monggo saja, kami siap datang," jelasnya.


Selain memberikan hiburan, ia berharap pertunjukan yang kelompoknya bawakan dapat menjadi koreksi diri masing-masing penonton. Bercermin menjadi kunci agar tidak menimbulkan iri maupun dengki kepada tetangga. "Hidup itu tidak seperti yang dibayangkan," tandasnya. (laz)

Editor : Herpri Kartun
#sandiwara radio #pertunjukan #Bahasa #jawa