Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Mujahid Amrudin mengatakan, 13 bangunan terdampak terdiri atas tujuh rumah rusak, dua tempat ibadah, satu fasilitas pemerintahan, dua fasilitas pendidikan, dan satu fasilitas kesehatan.
Sementara itu, 15 korban terdampak menjalani perawatan jalan akibat luka di tangan dan kaki serta benturan. Adapun korban yang mengalami patah tulang harus menjalani rawat inap.
“Ada yang kepalanya terbentur bangunan, sehingga lari dari rumah, sepat pingsan, tapi sudah sadar jam 7 tadi,” jelasnya Jumat (6/2).
Rinciannya, tiga orang dirawat di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, enam orang di RSUD Panembahan Senopati, dua orang di RSUD Saras Adyatma, satu orang di RSU Permata Husada, serta masing-masing satu orang di RSU Prambanan, RSU St. Elisabeth, dan Puskesmas Sanden.
Lokasi yang terdampak berada di Kapanewon Banguntapan, Bantul, Imogiri, Jetis, Kasihan, Pajangan, Pleret, Pundong, Sedayu, dan Srandakan.
“Belum ada yang ngungsi, karena informasi sampai siang ini rumah masih bisa dihuni,” katanya.
Mujahid mengatakan, saat ini pihaknya melakukan sejumlah upaya, antara lain pengamatan pasang surut air laut, koordinasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat kalurahan, pihak rumah sakit, serta monitoring gempa susulan.
Ia juga menyampaikan pendataan masih terus dilakukan dan data yang ada bersifat sementara.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mendasarkan informasi pada sumber resmi pemerintah.
Masyarakat juga disarankan mengakses informasi melalui laman BMKG atau berkomunikasi langsung dengan Pusdalops PB BPBD Bantul melalui WhatsApp maupun telepon, khususnya jika terdapat warga terdampak agar segera dilaporkan.
“Kami akan berkoordinasi dengan BMKG untuk memastikan apakah ada potensi gempa susulan atau tidak,” pungkasnya. (cin)
Editor : Bahana.