BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul rutin melakukan uji coba sirine Tsunami Early Warning System (TEWS) setiap bulan. Waktunya pun per tanggal 26 pukul 10.00.
Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah menjelaskan, pemilihan tanggal 26 merupakan hasil kesepakatan nasional untuk memperingati peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember 2006 silam. “Dilakukan uji coba rutin bagi daerah yang memiliki peringatan dini tsunami,” sebutnya Senin (26/1).
Selain di tanggal itu, BPBD Bantul juga melakukan uji coba sirine TEWS pada 27 Mei. Sebagai bentuk peringatan gempa bumi yang pernah melanda Jogjakarta 27 Mei 2006. “Sebagai refleksi,” tambahnya.
Ia menjelaskan, apabila dalam pelaksanaan uji coba ditemukan perangkat yang tidak berfungsi atau mengalami kerusakan, pihaknya akan segera melakukan perbaikan. Menurutnya, uji coba secara berkala sangat penting agar kesiapan dan keberfungsian alat selalu terjaga.
Saat ini, TEWS di Bantul tersebar di 29 lokasi. Sebanyak sembilan unit berada di wilayah pesisir pantai. Sementara sisanya terintegrasi dengan sound system publik, seperti di masjid dan sekolah.
Ia mencontohkan, salah satu TEWS berada di SMPN 2 Kretek yang telah terhubung dengan sistem peringatan tsunami di Bantul. “Karena fungsinya memberikan warning ke masyarakat, jadi kami memilih lokasi berada di tempat yang tidak jauh dari kerumunan orang,” katanya.
Sementara di kawasan wisata, TEWS terintegrasi dengan sound system pengumuman Pantai Parangtritis. Fungsinya ntuk memberikan pemberitahuan kepada wisatawan.
Terkait tahapan uji coba, Aka menjelaskan proses diawali dengan pemberitahuan terlebih dahulu. “Nanti baru membunyikan sirine aktivator dalam satu klik di Pusdalops BPBD Bantul,” jelasnya.
Sekali aktivasi dilakukan, sirine TEWS akan berbunyi secara massal di 29 titik dengan radius jangkauan mencapai satu kilometer.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik saat mendengar bunyi sirine TEWS karena suaranya berbeda dengan sirine ambulans. “Harapannya masyarakat paham dengan informasi gempa bumi, informasi peringatan tsunami lalu menindaklanjuti ketika ada arahan untuk evakuasi,” sebutnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SMPN 2 Kretek Setyo Mawarto membenarkan di sekolah yang dipimpinnya terdapat TEWS. Menurutnya, keberadaan TEWS tersebut dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini apabila terjadi tsunami. "Harapannya apabila terjadi tsunami siswa di sini akan cepat tanggap dan segera menyelamatkan diri, sehingga mengurangi korban jiwa," jelasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita