BANTUL - Perjalanan bisnis Bagus Feriyanto membuktikan gelar akademik bukan satu-satunya tiket menuju kesuksesan. Pria yang sempat menempuh kuliah di Universitas Gunadarma (UG) jurusan pemasaran hingga semester empat namun tak menyelesaikannya itu kini dikenal sebagai pendiri brand tas kulit sapi Kenes Leather, yang produknya tak hanya merambah pasar nasional, namun juga tembus hingga luar negeri.
Kecintaannya pada dunia jualan berawal saat masih bekerja sebagai sales di sebuah toko sepatu sekitar tahun 2010 sampai 2011. Saat itu ia juga menjual batik secara online lewat Facebook, Twitter, dan Instagram, meski kala itu platform digital belum seramai sekarang. Batik ia beli dari Solo setiap hari libur kerja.
“Saya foto, saya edit sendiri, terus saya upload di Facebook. Jualnya masih batik waktu itu,” kenangnya saat ditemui di showroom Senin (17/11).
Pada saat mengikuti pameran di area mal, Bagus melihat tingginya dominasi produk batik, dan ternyata belum ada yang menjual tas kulit. Dari hal tersebut muncul ide mencoba memasarkan produk berbeda.
Baca Juga: HUT ke-54 Korpri, Sekda Jateng Minta ASN Tidak Antikritik
Kebetulan ia memiliki teman pedagang tas kulit di Pasar Beringharjo dan mencoba meminjam barang untuk dipasarkan. Tanpa diduga, produk tersebut laku dan mendapat respons positif.
“Awalnya cuma iseng buat pameran, ternyata antusiasnya bagus. Saya coba jual online juga, hasilnya bagus. Dari situ saya mulai fokus ke kulit,” ujarnya.
Baca Juga: Enam Golongan Warga yang Dipastikan Tidak Mendapat Bansos BLT Kesra Tahun 2025
Bagus tetap bekerja di toko sepatu sembari terus berjualan tas kulit. Ia merintis sambil mengelola pameran, bahkan sudah memiliki karyawan meski masih bekerja sebagai sales.
Seiring meningkatnya permintaan, ia memutuskan resign dan menekuni penjualan tas kulit secara penuh. Produknya sepenuhnya berasal dari Jogja, bermaterial kulit sapi dari Magetan yang menurutnya paling cocok untuk tas dan dompet.
Awalnya Bagus mengambil barang jadi dari pengrajin, namun setelah berjalan bertahun-tahun ia mulai memproduksi sendiri untuk menekan biaya serta menjaga kualitas.
“Kalau produksi sendiri bisa pilih bahan terbaik, tapi tetap harga terjangkau. Dari dulu saya ingin tas kulit yang tidak mahal,” jelasnya.
Kenes Leather memiliki empat ciri khas, yaitu desain simpel, tidak terlalu mewah, garansi seumur hidup untuk perbaikan, seluruh produk berlabel resmi, serta memiliki tim repack khusus. Bahkan, ada pelanggan yang kembali memperbaiki tas setelah 10 tahun penggunaan.
Dalam operasional, Bagus juga memberdayakan SDM lokal, termasuk penyandang disabilitas. Salah satunya bekerja sama dengan Pak Leman, perajin dompet yang seluruh pekerjanya penyandang disabilitas. Kerja sama dimulai 2022 saat pandemi, ketika permintaan dompet meningkat.
“Ada tujuh sampai sepuluh karyawan disabilitas, berangkat kerja pakai motor roda tiga. Mereka bagian produksi dompet sampai ribuan unit,” tuturnya.
Jumlah karyawan internal Kenes Leather mencapai 35 orang, ditambah mitra eksternal sehingga total sekitar 60 pekerja. Produksi mitra juga menggunakan bahan dari Kenes Leather. Stok kulit aman, namun tantangan utama adalah stabilitas warna akibat proses penjemuran dan cuaca.
Perjalanan Bagus tak lepas dari peran marketplace. Tahun 2017, ia bergabung dengan Shopee dan menyebut platform tersebut sebagai titik penting perkembangan usaha karena memberikan keamanan transaksi bagi pembeli.
Saat pandemi Covid-19, bisnis justru meningkat drastis meski sempat vakum sebulan. Dari hal tersebut penjualan online mendominasi hingga 70 persen, sementara permintaan terbesar berasal dari Jabodetabek.
Produk Kenes Leather sudah pernah sampai ke Malaysia, Taiwan, dan Singapura melalui penjualan marketplace. Namun ekspor masih menjadi pekerjaan rumah. Ia pernah ditawari membawa produknya ke Jordania dengan merek mitra, namun terbentur kapasitas produksi yang baru mampu 10 ribu unit per bulan, sementara permintaan ekspor bisa mencapai 100 ribu unit.
“Prosesnya 14 tahun, bertahap, belajar dari pengalaman. Yang penting maju dulu, sambil terus memperbaiki manajemen,” ujarnya.
Ke depan, Bagus berharap dapat memperkuat kompetensi ekspor serta memperluas pasar luar negeri.
“Kita besar juga karena Shopee. Harapannya ke depan bisa ekspor lebih luas. Jangan sampai ada kesempatan yang terlewat karena kita belum siap,” tandasnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita