Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kulila Jogja Hadirkan Kurikulum Waldorf, Sekolah dengan Pendekatan Holistik Pertama di DIY

Cintia Yuliani • Selasa, 9 September 2025 | 05:00 WIB

 

ANTUSIAS: Siswa sedang kegiatan belajar mengajar di Kulila Jogja.
ANTUSIAS: Siswa sedang kegiatan belajar mengajar di Kulila Jogja.
 

BANTUL - Kulila Jogja menjadi sekolah pertama di DIY yang mengadopsi Kurikulum Waldorf. Sebuah pendekatan pendidikan alternatif yang lahir di Jerman.

Kurikulum ini dirancang oleh filsuf asal Austria, Rudolf Steiner. Melalui konsep antroposofi yang menekankan perkembangan anak secara menyeluruh.

Guru Kulila Jogja Rhodiah Safitri menjelaskan, Waldorf berbeda dengan kurikulum pada umumnya. Kurikulum ini, mengajarkan anak sesuai dengan tahapan perkembangan evolusi manusia. Mulai usia 0-7 tahun, 7-14 tahun, hingga 14-21 tahun.

"Jadi pendidikan disesuaikan dengan fase tumbuh kembangnya,” jelasnya saat ditemui Senin (8/9).

Menurut Rhodiah, pembelajaran di Kurikulum Waldorf menekankan tiga aspek utama yakni thinking (berpikir), feeling (merasakan), dan willing (kemampuan berkarya). Anak tidak hanya belajar kognitif. Tetapi juga kesenian, kerajinan tangan, hingga keterampilan praktis sehari-hari.

Di kelas satu misalnya. Anak belajar form drawing untuk bekal geometri, bahasa, matematika, hingga nature life. Pembelajaran banyak dilakukan di luar ruang, dengan pengamatan alam, camping, dan kegiatan kreatif lainnya.

"Semua tanpa layar, tanpa komputer maupun LCD. Kita pakai kapur, kertas, dan gambar manual,” tambahnya.

Selain metode belajar, keunikan Kurikulum Waldorf juga terletak pada sistem pengajarannya. Satu guru mendampingi murid dari kelas satu hingga kelas enam agar lebih memahami perkembangan anak secara utuh.

Kulila Jogja sendiri sudah berdiri sejak 2013 untuk jenjang TK. Sedangkan jenjang SD baru dibuka tahun ini. Hingga kini, jumlah murid TK sekitar 15 anak per kelas dengan tiga guru pendamping. Sedangkan SD masih merintis dengan sistem bertahap.

Awalnya, kata dia, murid Kulila Jogja didominasi warga negara asing. Namun kini, semakin banyak orang tua lokal yang mulai terbuka dan memilih menyekolahkan anaknya dengan memakai Kurikulum Waldorf. “Dulu hampir 90 persen murid bule,” kata Rhodiah.

Dalam keseharian, anak-anak Kulila Jogja belajar dengan pendekatan bilingual. Bahasa Indonesia tetap digunakan, namun anak asing dibimbing menggunakan bahasa Inggris secara alami lewat interaksi sehari-hari.

“Kadang komunikasi anak lokal dengan anak asing terjadi lewat bahasa isyarat, lalu berkembang ke bahasa Inggris. Jadi belajar bahasa berlangsung natural, tidak dipaksakan,” bebernya.

Pendekatan holistik Waldorf di sekolah yang berada di Mrisi RT 11, Tirtonirmolo, Kasihan, ini diyakini mampu melahirkan anak-anak yang tidak hanya cerdas. Tapi juga berjiwa kreatif dan memiliki karakter kuat. Mereka diajak menjahit, menggambar dengan cat air, hingga membuat hasta karya.

“Kalau di sekolah biasa anak dipaksa membaca sejak dini, di Waldorf justru menunggu kesiapan," jelasnya.

Menurutnya semua anak bisa membaca, tetapi lebih penting membangun rasa suka terhadap membaca terlebih dahulu. "Jadi anak belajar dengan senang, bukan terpaksa,” tutur Rhodiah.

Ke depan, sekolah yang dipimpin oleh Dwi Oktafianti Putri akan terus mengembangkan jenjang pendidikannya secara organik. Menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan tenaga pendidik.

“Yang penting, anak-anak bisa tumbuh sesuai tahapannya,” kata Rhodiah. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perkembangan #konsep antroposofi #Pendekatan #Kurikulum Waldorf #Kasihan #Tirtonirmolo #Kulila Jogja #jerman #pendekatan pendidikan #Waldorf #kurikulum #DIY #holistik #evolusi manusia