Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UMKM di Bantul Ini Bikin Terobosan! Pengalengan Ikan Tanpa Pengawet Tembus Pasar Internasional

Cintia Yuliani • Selasa, 10 Juni 2025 | 22:11 WIB

Pengalengan Ikan: Sri Nuryana pemilik usaha Dapur Bunda Nuryana sedang memperlihatkan produk pengalengan ikan yang diproduksinya
Pengalengan Ikan: Sri Nuryana pemilik usaha Dapur Bunda Nuryana sedang memperlihatkan produk pengalengan ikan yang diproduksinya
BANTUL - Sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM) dari Kabupaten Bantul, berhasil menarik perhatian pasar internasional lewat produk pengalengan ikan tanpa bahan pengawet.

Usaha yang dinamai Dapur Bunda Nuryana ini dimiliki oleh Sri Nuryana, seorang sarjana kesehatan yang dulunya berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sebelum memutuskan untuk fokus mengembangkan usaha kuliner khas dari pesisir selatan.

Bermula dari hobi berjualan saat masa kuliah, Sri Nuryana kini bisa membuka usaha sendiri di kawasan Pantai Depok, Parangtritis, Kabupaten Bantul.

Dengan sertifikat memasaknya ia berhasil mengasah keahlian kulinernya menjadi sebuah produk yang tidak hanya enak, tetapi juga tahan lama yang bebas dari pengawet.

"Sebenarnya bisa tahan sampai 2 tahun, tapi kita cari aman, jadi maksimal 1 tahun saja," ujarnya Selasa (10/6).

Ia juga mengungkapkan proses sterilisasi pembuatan produk ikan yang dikalengkan dilakukan sangat ketat demi menjaga kualitasnya.

Dapur Bunda Nuryana memiliki sekitar 120 jenis produk. Produksi saat ini mampu mencapai 500 kaleng per hari.

Produk Ikan Judes sebagai produk favorit pasar lokal. Sementara itu, untuk pasar ekspor, produk Ikan Pete dengan campuran ikan teri menjadi andalan utama.

Semua produk telah bersertifikasi halal, dan dijual dengan harga terjangkau, yaitu mulai dari Rp 40 ribu per kaleng sebanyak 250 gram.

"Jadi satu kaleng bisa untuk tiga orang," jelasnya.

Sedangkan di pasar ekspor, produk ini dibandrol 16 dolar AS per kaleng atau sekitar Rp 260 ribu.

Nuryana mengklaim harga yang sudah dibandrol termasuk murah daripada produk-produk sejenis lainnya, karena ia membeli ikan sebagai bahan pokok langsung dari nelayan.

Ia juga menambahkan distribusi produknya kini telah menjangkau rumah sakit, pusat oleh-oleh, dan berbagai titik penjualan di Jogja dan Jawa Tengah, dengan upaya yang sedang berjalan untuk masuk ke jaringan ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart.

Tak hanya fokus pada pasar lokal, Dapur Bunda Nuryana juga aktif mengembangkan ekspor.

"Produk kita telah masuk ke Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Australia," jelas Joko Suwanto Mitra Pemasaran Dapur Bunda Nuryana.

Dalam waktu dekat, mereka akan mengikuti undangan ke Prancis, mewakili UMKM Indonesia di ajang internasional, dan sedang dalam persiapan melakukan ekspor ke Singapura.

Produksi makanan ini sepenuhnya dilakukan di dapur produksi Dapur Bunda Nuryana, mulai dari pengolahan ikan segar yang diasap atau digoreng hingga pengemasan.

Salah-satu rahasia rasa khas produknya adalah ada tambahan bunga yang digunakan sebagai penyedap alami tanpa pengawet. Selain itu, bahan baku seperti bumbu dan sayur diperoleh dari sekitar Jogja.

Nuryana dan Joko juga mempunyai rencana membuat kebun organik yang sekarang sedang dikembangkan oleh tim Dapur Bunda Nuryana.

Tujuannya agar bahan baku bisa langsung diperoleh dari kebun yang dikelolanya, demi menjaga kualitas dan kesehatan konsumen.

"Karena kan akhir-akhir ini isu kesehatan sedang tidak baik-baik saja," tuturnya.

Selain itu, hampir 100% tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar. Bukan tanpa alasan, ini merupakan bagian dari program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.

Joko menjelaskan keunggulan dari produk Dapur Bunda Nuryana yakni produknya tidak perlu dimasak ulang.

"Cukup buka kalengnya dan bisa langsung jadi lauk. Itu keunggulan kami,” tutupnya. (cr2)

Editor : Bahana.
#Bantul #UMKM #pengalengan ikan #pasar internasioanl