Untuk ketinggian air banjir sendiri, Slamet menuturkan bahwa ketinggiannya bervariasi, dan salah satu yang cukup parah ada di kawasan Polsek Imogiri, dengan ketinggian mencapai lutut.
Slamet menerangkan, kejadian banjir itu karena adanya luapan kali celeng yang disebabkan meningkatnya intensitas hujan cukup deras sejak siang hingga malam, disebutnya, secara karakteristik kali celeng memang akan meluap jika ada hujan deras dengan durasi yang lama.
"Selain kali celeng, juga embung Wukirsari, kemarin jam 6 sore sudah penuh, tidak bisa menampung air dari hulu, akhirnya mengalir dan meluap," paparnya.
Saat dikonfirmasi, Slamet menyampaikan bahwa kondisi saat ini sudah lebih stabil, dan dalam proses pembersihan di masing-masing rumah warga, yang kebanyakan dilakukan secara mandiri.
Sementara, saat banjir terjadi, ia berujar bahwa ada personil gabungan dari TNI, Polri, BPBD, SAR, hingga warga dan relawan yang bergerak bersama.
"Semalam sempat ada yang mengungsi, baik ke tetangga atau saudara, tapi sekarang sudah lebih baik," lontarnya.
Dalam proses pembersihan, dan evakuasi yang dilakukan. Slamet menyebut bahwa ada bantuan logistik yang diberikan bagi para petugas yang melakukan penanganan, pembersihan, dan beberapa warga yang tidak sempat sahur.
"Dari dinas sosial menyiapkan dapur umum dan mengirimkan sekitar 500 porsi makanan untuk wilayah Imogiri," lontarnya.
Dari kejadian tersebut, ia menuturkan tidak ada korban jiwa. Lalu, hari ini tadi beberapa Panewu di Bantul sendiri sudah dipanggil untuk melakukan rapat koordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul.
"Banjir ini tidak hanya di Imogiri, tapi di Kapanewon lain. Tadi diputuskan statusnya siaga darurat, kejadiannya sudah bisa diatasi dan tidak meluas tingkat kerusakannya," sebutnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa saat ini antisipasi juga masih dilakukan, salah satunya adalah adanya pos jaga di tiap kelurahan.
"Sebenarnya itu pos jaga Lebaran, tetapi juga multifungsi untuk antisipasi dan laporan bencana," pungkasnya. (iza)