BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul melakukan penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit dengan memakai drone.
Penggunaan teknologi di bidang pertanian itu bertujuan agar memudahkan proses pertanian supaya efektif dan efisien.
Pelaksana Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) DKPP Bantul Irfan Cahyo Nugroho menjelaskan, penggunaan drone dari DKPP Bantul telah dilakukan dalam setahun terakhir.
Drone pertanian yang memiliki lebar sekitar satu meter lebih itu terbang membawa sekitar 10 liter pestisida dan menyiramkannya secara otomatis.
Sesuai luas lahan yang sudah di-setting operator drone.
Pesawat nirawak itu kemudian terbang sambil menyiram tanaman padi di bawahnya secara bolak balik.
Penyemprotan menggunakan drone memerlukan 10 liter pestisida untuk satu hektare lahan.
Sementara dengan penyemprotan manual memerlukan 30 tangki pestisida dengan kapasitas 16 liter per tangki untuk satu hektare lahan.
"Satu hektare diperlukan 10 liter pestisida dengan waktu terbang sekitar 10 menit. Satu hektare lahan sebenarnya butuh sekitar 30 tangki semprot,” ujarnya di sela penyemprotan di Kalurahan Tamantirto, Kasihan, Selasa (20/2).
Ia mengatakan, penggunaan drone dari DKPP Bantul belum lama dilakukan. Namun, pengenalan drone kepada petani sudah lama dilakukan.
Sebelumnya sudah banyak petani yang menggunakan jasa penyemprotan dengan drone dari pihak swasta.
Satu kali menyewa untuk penyemprotan lahan seluas satu hektare biayanya sekitar Rp 250 ribu. Sementara dari dinas tidak dipungut biaya.
"Kami cuma punya satu drone, itu tidak cukup untuk memenuhi seluruh Bantul. Biasanya penyemprotan seminggu sekali,” ungkapnya.
Irfan menyebut, petani menyambut positif penyemprotan pestisida dengan drone ini.
Sebab, petani tidak perlu repot-repot untuk menyemprot pestisida secara manual.
Sehingga saat ini hampir semua petani meminta lahannya disemprot pestisida dengan drone.
"Tapi, kami cuma satu dan cuma saya operatornya, jadi kalau setiap hari menyemprot belum bisa,” jelasnya.
Terkait prosedur pengajuan, ia menjelaskan di setiap kapanewon ada petugas POPT.
Dari pengamatan petugas POPT jika dimungkinkan untuk disemprot dengan drone, lalu akan memberi rekomendasi ke ketua kelompok tani.
Kemudian, dari kelompok tani langsung mengajukan ke dinas.
“Belum semua kalurahan di Bantul bisa, baru di lokasi yang memungkinkan. Karena tidak semua area sawah memungkinkan untuk disemprot pakai drone, misalnya ada banyak pohon atau halangan,” katanya.
Petani di kelompok tani Sidodadi Sardjono menyebut, para petani di kelompoknya sudah sering menggunakan drone untuk penyemprotan.
Itu dilakukan sejak tahun 2023. Sebelumnya dilakukan secara manual.
“Ini yang ketiga kalinya. Lebih efektif pakai drone, lebih cepat,” ujarnya.
Luas lahan yang disemprot dengan drone di kelompok tani tersebut seluas enam sampai delapan hektare. Sementara ada sekitar 70 petani di kelompoknya.
Sardjono menjelaskan, tanaman padi di lahannya sering terkena hama. Yakni, penyakit kresek atau yang biasa disebut dengan Hawar Daun Bakteri atau Bacterial Leaf Blight (BLB).
Penyakit yang disebabkan oleh serangan oleh bakteri ini dapat mengakibatkan kerusakan tanaman dan juga dapat menurunkan hasil produksi tanaman padi.
“Harus ada perawatan yang spesial untuk pertumbuhan biar nanti bisa maksimal. Secepat mungkin harus diatasi, makanya kami juga sudah memprogramkan tiap ada kegiatan kami mengajukan penyemprotan,” ucap Sardjono. (tyo)
Editor : Amin Surachmad