Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih dari Setahun Rusak, Jembatan Pucung Growong di Bantul Belum Akan Diperbaiki Tahun Ini

Gregorius Bramantyo • Kamis, 1 Februari 2024 | 02:38 WIB
MANFAAT: Warga melintas di samping Jembatan Pucung Growong yang rusak di Kalurahan Karangtengah, Imogiri, Bantul.
MANFAAT: Warga melintas di samping Jembatan Pucung Growong yang rusak di Kalurahan Karangtengah, Imogiri, Bantul.

BANTUL – Jembatan Pucung Growong di Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, Bantul, sudah rusak selama lebih dari satu tahun. Jembatan itu rusak akibat diterpa hujan dengan intensitas tinggi selama akhir tahun 2022.

Derasnya aliran sungai merusak jembatan dan berdampak pada aktivitas perekonomian masyarakat sekitar.

Lurah Karangtengah Haryanto mengungkapkan, jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan sejumlah wilayah.

Seperti Karangtengah, Karangrejek, Sriharjo, Srikeminut, hingga Girirejo.

Terhambatnya aktivitas perekonomian ini cukup terasa mengingat banyak destinasi wisata di kawasan tersebut.

“Infonya belum akan dibenahi tahun ini. Katanya anggaran tahun ini tapi belum tahu kejelasannya, apa memang sudah diplot tahun ini apa belum. Karena itu vital banget,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (31/1).

Setelah jembatan tersebut rusak, pihak kalurahan telah melaporkannya kepada bupati, dewan, dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul.

Bahkan, Bappeda dan DPUPKP Bantul telah melakukan survei ke jembatan tersebut.

Haryanto mengatakan, jembatan tersebut memang tidak diperbaiki pada tahun 2023 lalu karena anggaran dari DPUPKP sudah diplot untuk hal lain.

“Semestinya sudah dianggarkan tahun ini tapi kami belum komunikasi dengan DPUPKP dan Pak Bupati. Apakah sudah disiapkan di tahun ini apa belum itu kami belum tahu,” katanya.

Ia menjelaskan, jembatan itu sudah berusia lebih dari 20 tahun dan sebelumnya belum pernah rusak. Kerusakannya meliputi retaknya sayap di sebelah timur.

Sehingga jembatan itu tidak bisa digunakan. Warga pun kemudian berswadaya membuat jembatan sementara dari bambu, tak jauh dari jembatan utama.

Hanya saja, jembatan sementara itu hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Sementara kendaraan roda empat harus memutar sejauh lima kilometer lewat Sriharjo.

“Biaya jembatan yang sementara dari bambu itu perkiraan di angka RP 15 juta,” jelas Haryanto.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Bantul Eka Budi Santosa mengatakan, pihaknya sebenarnya ingin mengajukan penanganan Jembatan Pucung Growong di tahun 2024 ini.

Namun saat mengisi usulan rencana pembangunan pada 2023 lalu, anggarannya belum cukup.

Kemudian di tengah perjalanan, anggarannya banyak dirasionalisasi.

"Sehingga kami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran untuk jembatan itu karena butuh biaya yang banyak,” ungkapnya.

Eka menjelaskan, setelah ada alokasi anggaran, pihaknya melayang surat kepada bupati untuk meminta tambahan anggaran.

Namun hingga saat ini belum direspons. Maka dari itu, belum bisa teranggarkan.

Dinasnya pun juga pernah melakukan survei ke jembatan tersebut. Dari hasil pemantauan, jembatan tersebut harus diganti total.

“Dari perhitungan tahun kemarin biayanya sekitar Rp 4 miliar untuk mengganti jembatan itu,” katanya.

Baca Juga: Ribuan Masyarakat dan Pawai Jeep Merapi Iringi Pelepasan Harda Kiswaya Sebagai Sekda Sleman

Ia menyebut, Pemkab Bantul di tahun ini hanya mengalokasikan penanganan Jembatan Bantulan di Kapanewon Sanden dan Jembatan Mriyan di Kapanewon Kretek dengan anggaran masing-masing Rp 600 juta sampai 700 juta dari APBD Bantul tahun 2024.

Sementara menurut Eka, tidak ada anggaran perawatan jembatan di tahun 2024. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#pucung #rusak #aliran sungai #jembatan