BANTUL – Dampak buruk dari siklon tropis anggrek yang melanda Kabupaten Bantul juga dirasakan para nelayan di Pantai Samas.
Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi beberapa hari belakangan membuat para nelayan memutar otak untuk melaut.
Salah satu nelayan di Pantai Samas Tri Jarwanto mengaku, cuaca buruk membuat hasil tangkapan ikan menjadi tidak maksimal.
Setidaknya, selama dua hari terakhir, para nelayan di Pantai Samas hanya mencuri-curi waktu untuk melaut.
“Melihat kondisi, angin itu datang atau belum. Kan kelihatan kalau mau angin kenceng itu dilihat dari mendung,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (21/1).
Di Pantai Samas sendiri ada dua kapal nelayan. Sedangkan di Pantai Baru ada satu kapal. Para nelayan di kedua pantai tersebut mencuri-curi waktu untuk melaut dalam kondisi buruk akibat siklon tropis anggrek.
Mereka paling lama hanya melaut selama dua hingga tiga jam saja. Itu pun tak jauh. Hanya satu hingga dua mil dari bibir pantai.
“Kami nanti update terus kapan ombaknya bagus. Kalau hujan sih tidak apa-apa, karena yang ditakuti angin, dan yang penting tidak badai,” kata Tri.
Ia menjelaskan, saat ini sebenarnya sedang musim panen tangkapan ikan. Terutama ikan bawal di mana harganya saat ini sedang naik. Namun terkendala karena siklon tropis anggrek.
Tri menambahkan, menjelang hari raya Imlek, harga bawal meningkat di masing-masing ukuran. Yang paling mahal adalah ikan bawal di atas lima ons.
Harganya bisa mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per kilogram.
“Biasanya menghadapi Imlek ikan bawal mahal, tapi besok setelah Imlek harganya normal, turun lagi,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah III Parangtritis, M Arief Nugraha menjelaskan, saat ini ketinggian ombak di wilayah Pantai Parangtritis dan Depok masih normal.
Tidak ada peningkatan yang signifikan. Tingginya berkisar dua hingga tiga meter.
“Tetapi anginnya kencang, itu yang mungkin membuat nelayan takut melaut,” kata Inug, sapaannya.
Ia menjelaskan, di wilayahnya sendiri dalam beberapa hari belakangan tidak ada nelayan yang pergi melaut. Terakhir nelayan yang melaut pada 17 Januari lalu.
Dampak cuaca buruk itu juga berpengaruh terhadap pariwisata di Pantai Parangtritis dan Pantai Depok.
“Berpengaruh ke wisata, sepi saat weekend,” ungkapnya.
Inug menyebut, larangan unutk melaut kepada para nelayan sudah disampaikan oleh pihaknya.
Namun, menurutnya, para nelayan saat ini sudah lebih cermat dibanding pihaknya dalam mengamati kondisi cuaca.
"Biasanya mereka lebih paham. Karena mereka tempatnya di laut jadi paham kondisinya seperti apa,” tandasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad