RADAR JOGJA - Fakultas Seni Rupa Institut Seni (ISI) Jogjakarta mengajukan akreditasi internasional ke lembaga ‘Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) asal Jerman tahun ini. Biaya akreditasi yang disiapkan mencapai sekitar Rp 800 juta.
Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Jogjakarta Muhammad Solahuddin mengatakan, dokumen pengajuan akreditasi internasional sudah dibuat sejak tahun lalu. Bahkan pihak kampus juga telah mengajukan proposal dan rencana pembayaran.
“Jadi, ada enam program studi (prodi) sudah kita ajukan ke akreditasi internasional,” kata Muhammad ditemui usai acara Harlah Asri ke-74 di Kampus ISI Jogjakarta kemarin (15/1).
Enam prodi yang diajukan masing-masing Desain Interior, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, Seni Murni, Kriya, dan Tata Kelola. Pihaknya berharap dengan memiliki akreditasi internasional, umur indikator kinerja utama poin kedelapan berupa produ berstandar internasional dari ISI Jogjakarta akan terpenuhi.
“Karena selama ini indikator yang kedelapan itu kami selalu nol karena belum punya akreditasi internasional,” ujarnya.
Menurutnya, kendala akreditasi internasional lebih kepada pembayaran. Karena proses pembayaran dalam bentuk EURO. Oleh sebab itu saat ini kampus ISI Jogjakarta sedang melakukan proses negosiasi dengan FIBAA agar proses keuangan bisa berjalan lancar.
“Karena kalau setiap berhubungan dengan uang negara kan ya. Karena jumlahnya tidak kecil sekitar Rp 800 juta lebih untuk pembayaran akreditasi enam program studi tadi,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor ISI Jogjakarta Irwandi berharap, ke depan FSR mampu menjadi lembaga pendidikan tinggi seni rupa yang bereputasi internasional. “Mampu meningkatkan peringkat FSR ISI Jogjakarta di level internasional,” sebut Irwandi. (gun/eno)
Editor : Satria Pradika