Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cegah Inflasi, DKPP Bantul Jadwalkan Penanaman Secara Berkala

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 16 Desember 2023 | 02:36 WIB
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

 

BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul berupaya mencegah terjadinya inflasi dan menekan terjadinya ketidakstabilan harga produksi bawang merah.

Hal itu karena selama ini para petani melakukan masa tanam dengan jadwal yang sama. Itu antara petani bawang merah yang satu dengan lainnya.

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo mengatakan, harga hasil panen bawang merah pada Agustus dan September 2023 lalu jeblok.

Pada waktu itu, bawang merah hanya dihargai Rp 9 ribu per kilogram. Padahal, break even point (BEP) bawang merah adalah Rp 12 ribu per kilogram.

"Saya melihat selama ini kan harga itu hukum ekonomi. Jadi berpengaruh sekali kepada para petani dan masyarakat," kata Joko, Jumat (15/12).

Untuk itu, pihaknya akan berupaya melakukan pembagian jadwal masa tanam bawang merah di ratusan hektare lahan pasir yang dikelola oleh 15 kelompok tani (poktan) di Kabupaten Bantul.

Pembagian jadwal masa tanam itu direncanakan mulai 2024 mendatang. Karena saat ini pihaknya masih melakukan persiapan penanaman bawang merah secara berkala.

"Nanti akan kami lakukan penanaman berkala. Jadi Januari ada yang tandur bawang merah, Februari ada yang tandur, dan seterusnya," jelas Joko.

Ia menjelaskan, di lahan pertanian pasir di Bantul saat ini ada 15 poktan. Saat ini yang akan melakukan program tersebut ada 10 poktan. Yang terdiri dari tiga poktan di Kretek, empat poktan di Sanden, dan tiga poktan di Srandakan.

“Kalau nanti sudah ada hasil yang realita, maka akan saya gerakkan ke seluruh petani di Kabupaten Bantul.” ujarnya.

Kemudian, 10 poktan tersebut juga diupayakan untuk menggunakan penyiraman lahan dengan metode elektrifikasi.

Joko menyebut, elektrifikasi listrik ini ramah lingkungan jika dibandingkan dengan memakai mesin diesel bertenaga BBM. Selain itu inovasi ini juga dapat menghemat pembiayaan hingga 70 persen.

"Harapannya petani tidak ada alasan untuk masalah penyiraman,” harapnya.

Ketua Kelompok Tani Lahan Pasir Eka Lestari, Edi Nugroho menuturkan, pihaknya sangat terbantu dengan adanya teknologi pertanian elektrifikasi ini.

Ia mengaku penanaman bawang merah dengan teknologi pertanian elektrifikasi dapat menghemat biaya hingga 70 persen.

“Harapannya pemerintah juga dapat mengendalikan harga pasar bawang merah sehingga petani tidak merugi,” katanya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#DKPP Bantul #inflasi #bawang merah