Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Kedelai Impor dari Amerika Naik, Produsen Kurangi Volume Tempe

Gregorius Bramantyo • Rabu, 8 November 2023 | 01:36 WIB
KERJA KERAS: Karyawan mengemas kedelai di Pabrik Tempe Murni Muchlar di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Selasa (7/11). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
KERJA KERAS: Karyawan mengemas kedelai di Pabrik Tempe Murni Muchlar di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Selasa (7/11). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
 
BANTUL - Harga kedelai impor yang terus mengalami kenaikan dikeluhkan produsen tempe Muchlar di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Sebab, produsen tempe khawatir kehilangan pembeli jika menaikkan harga jual tempe.
 
Pengelola pabrik tempe Muchlar, Abdul Karim, mengatakan, biasanya kedelai impor impor berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram.
 
Sedangkan saat ini harganya disebut sudah mencapai sekitar Rp 13.200 per kilogram.
 
“Itu kedelai impor dari Amerika. Harganya sekarang lagi naik terus,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (7/11).
 
 
Menurutnya, harga kedelai impor terus merangsek naik. Situasi itu membuat produsen tempe Muchlar harus putar otak.
Apalagi, setiap harinya membutuhkan hingga satu setengah ton kedelai. Sementara mengerek harga jual tempe dirasa tidak mungkin.
 
"Konsumen pasti mengeluh. Kami lama-lama bisa kehilangan pelanggan," tuturnya.
 
Lantaran harga kedelai impor naik, pihaknya mengaku terpaksa menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tempe. Cara itu dinilai sebagai jalan terbaik dibandingkan menaikkan harga jual tempe.
 
 
Produsen tempe Muchlar memutuskan untuk mengurangi volume tempe sekitar 25 gram hingga setengah ons tiap kemasannya. Pabrik tersebut mengemas tempe dengan beragam ukuran kemasan.
 
Yakni, 130 gram, 350 gram, 550 gram, hingga 2,5 ons. “Diperkecil beratnya, dari 2,5 ons sekarang dikurangi sekitar setengah ons. Tapi harganya tetap Rp 3 ribu,” jelas Abdul.
 
Ia berharap pemerintah bisa segera menekan kenaikan harga kedelai agar harga kedelai bisa stabil. Langkah yang ia harapkan adalah pemerintah menjaga stabilitas harga dengan membuat acuan harga eceran tertinggi (HET) untuk kedelai impor.
 
 
Pada 2020 lalu, kenaikan harga kedelai impor berkisar Rp 9.200 per kilogram. Para produsen dan pedagang tempe dan tahu pun sudah beberapa kali melakukan aksi mogok produksi sebagai bentuk protes.
 
Namun, Abdul menyebut, para produsen di Jogja tidak bisa melakukan hal serupa. Apalagi, mengajukan subsidi kepada pemerintah. Sebab, di Jogja tidak ada Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI).
 
“Produsen tempe tahu di Jogja pernah ada yang minta subsidi ke pemerintah tapi tidak bisa karena tidak ada KOPTI. Makanya, kalau mau demo juga tidak bisa karena tidak ada organisasi,” ungkapnya. (tyo)
 
 
Editor : Amin Surachmad
#produsen tempe #Kedelai Impor