RADAR JOGJA - Pembangunan infrastruktur jalan kelok 18 yang merupakan bagian dari proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) sudah mulai dikerjakan. Jalan tersebut membelah perbukitan di wilayah Kalurahan Parangtritis, Kretek, Bantul hingga Kalurahan Girijati, Purwosari, Gunungkidul.
PPK 1.2 Provinsi DIJ Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi DIJ Ridwan Subarkah menjelaskan, pengerjaan proyek JJLS Kelok 18 di Jalur telah mulai digarap sejak pertengahan September lalu. Titik temu JJLS Kelok 18 di Bantul berada di pertigaan Parangkusumo Jalan Parangtritis. Wilayah ini masuk ke Dusun Grogol. "Itu adalah titik nol Jalan Kretek-Girijati. Jalan itu sendiri panjangnya 5,6 kilometer dan nanti dikerjakan selama dua tahun," katanya kepada wartawan, Jumat (13/10).
Nilai pekerjaan jalan itu sebesar Rp 241 Miliar. JJLS tersebut memiliki lebar 7,5 meter. Akan ada dua jalur, di mana masing-masing jalur akan diisi satu lajur. "Bahu jalan lebarnya 1,5 meter, sementara roundingnya setengah meter," jelas Barkah.
Selanjutnya, di ruas kurang lebih 1,9 kilometer nantinya akan dibangun jembatan yang total bentangan mencapai 50 meter. Hal itu karena kondisi di ruas ini merupakan tebing tinggi dan lembah yang cukup dalam. Di ruas kurang lebih 3,2 kilometer akan dilengkapi dengan fasilitas rest area untuk para pengendara yang ingin beristirahat. “Sekadar menikmati pemandangan di sekitar lokasi," ucap Barkah.
Nantinya masyarakat dapat menempuh perjalanan selama sekitar satu jam dari Parangtritis ke Girijati maupun sebaliknya. Selain terkait jarak tempuh yang lebih singkat, JJLS tersebut dibangun untuk pemerataan ekonomi. Menurutnya, selama ini Pulau Jawa terlalu condong ke jalur Pantura. "Untuk daerah selatan kurang berkembang, padahal itu potensi wisatanya banyak," ujarnya.
Di Pulau Jawa bagian selatan sendiri banyak daerah wisata yg secara akses sulit terjangkau. Menurutnya dengan adanya JJLS tersebut, daerah wisata di selatan dapat berkembang, otomatis perekonomian juga ikut berkembang. Jalan itu tugasnya untuk distribusi jasa dan barang. “Otomatis harga bisa lebih ditekan dan barang lebih mobile dan bisa menjangkau daerah," bebernya.
Salah satu warga Dusun Grogol, Dwi Sunu Prapto menjelaskan, proyek tersebut sudah dimulai sejak lima tahun, dan kini memasuki tahun keenam. Ia mengungkapkan, harga pembebasan lahan sendiri sempat dinego oleh masyarakat. Ada sebagian warga yang meminta kenaikan harga. Namun akhirnya telah sepakat dengan harga standar yang diberikan oleh pemerintah. "Sudah dibayarkan sejak lama. Begitu ada kesepakatan langsung mulai dibayarkan," katanya.
Totok, sapaannya, menjelaskan bahwa p proyek JJLS tersebut mulai digarap pada pertengahan September 2023 lalu. Ada enam rumah berpenghuni yang terdampak oleh pembangunan JJLS tersebut di wilayah Bantul. "Mayoritas sudah pada pindah dan mendirikan rumah lagi, tapi masih di Dusun Grogol," jelasnya.
Menurutnya, dengan adanya JJLS tersebut, secara otomatis akan memudahkan masyarakat Kretek atau Bantul bagian selatan jika ingin menuju Gunungkidul. Secara ekonomis, masyarakat juga akan terbantu karena menjadi lebih dekat. "Harapannya aksesnya jadi mudah, bisa meningkatkan ekonomi dan juga objek wisata," harapnya. (tyo/din)
Editor : Satria Pradika