RADAR JOGJA - Rekam jejak Prof Timbul Raharjo tak hanya membekas baik bagi civitas ISI Jogjakarta. Rektor ISI Jogjakarta ini juga memiliki catatan baik untuk sejumlah organisasi dan kegiatan diluar kampus. Terutama, perannya dalam memajukan dunia seni kriya di Jogjakarta.
Sumaryono, pensiunan Dosen Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta, bercerita banyak tentang sosok Timbul Raharjo. Di luar kampus, keduanya pernah berduet dalam satu perhelatan seni di Jogjakarta.
“Saya dekat karena mengelola bersama Festival Keseniaan Yogyakarta (FKY). Setelah persis saya tahun 2011 dan 2012 kemudian ProfTimbul yang jadi Ketua FKY setelahnya,” jelasnya ditemui di kampus ISI Jogjakarta, Rabu (6/9).
Dalam merengkuh jabatannya sebagai rektor, Sumaryono juga mengenal sejarah perjalanan Timbul Raharjo. Menurutnya, Timbul tidak ambisius untuk mendapatkan jabatan ini. Namun, karena rekam jejaknya sehingga dipercayai amanah sebagai Rektor ISI Jogjakarta periode 2023-2027.
Begitu pula sebagai sosok kriyawan, hal serupa juga tercermin dari seorang Timbul Raharjo. Salah satu karyanya yang kini ditiru adalah Kuda Egrang. Karya kriya ini merupakan perpaduan logam dan kayu. Meski sebagai pioner, namun Timbul tak mempermasalahkan banyak seniman yang mengadaptasi karyanya.
“Seniman itu jalan bareng dan tidak ngoyo, tidak bernafsu, itu yang mengagumkan dan tidak mabuk kekuasaan. Kekuasaan datang sendiri, semoga nanti ada generasi generasi yang meneladani Prof Timbul,” katanya.
Sumaryono juga menganggap Timbul perpaduan ideal antara dunia teori dan praktiknya. Terbukti keseharian Timbul yang bertindak sebagai akademisi, seniman dan pelaku industri. Semuanya berjalan selaras sehingga menghadirkan kriya yang berkualitas.
“Ada yang lemah di kreasi kesenimanan menonjol akademiknya. Ada yang menonjolkan kesenimanannya, akademiknya terltinggal. Prof Timbul tidak dan semua digapai dengan alami saja, tidak bernafsu,” ujarnya. (dwi)