
BANTUL - Lahan seluas setengah hektar di Kalurahan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, kini tampil beda.
Tanah yang mulanya tak produktif diubah menjadi percontohan agrowisata berbasis pertanian terpadu.
Uniknya, sawah ini sudah dikendalikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta jaringan sensor Internet of Things (IoT).
Langkah berani ini bermula dari keprihatinan Lurah Pleret Taufik Kamal, terhadap minimnya regenerasi petani dan maraknya kendala pengairan di wilayahnya.
Baca Juga: Cara Adopsi Orangutan Kalimantan Secara Online di BOS, Tak Dibawa Pulang tapi Bisa Ikuti Perjalanann
Selain itu, ia juga melihat minimnya keuntungan yang didapat karena lahan sawah yang sempit.
"itu nek mung lahane sempit itu enggak akan bathi (untung)," ujar Taufik.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Kalurahan Pleret memanfaatkan Dana Keistimewaan melalui program Desa Mandiri Budaya untuk membangun ekosistem agrowisata edukatif.
Lahan tersebut kini ditanami tiga komoditas, yaitu bawang merah, cabai, dan pare, hal tersebut dilakukan guna meminimalisasi risiko jika salah satu harga pasar anjlok.
Di lapangan, pengelolaan lahan modern ini dipercayakan kepada warga setempat.
Penanggungjawab Pertanian Wisata Banyu Kencono Soni Susanto, menjelaskan bahwa teknologi sistem seperti ini baru pertama kali diterapkan di Bantul, bahkan mungkin di DIY.
“Khusus untuk data edukasi ini," jelas Soni kepada Radar Jogja (25/8).
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




