RADAR JOGJA – Universitas Gadjah Mada (UGM) kini mulai melakukan pengeboran untuk mengambil sampel jalan ambles di Padukuhan Wunut, Sriharjo, Imogiri. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penyebab amblesnya jalan yang sudah terjadi enam kali.

Petugas Teknis Pengebor UGM Kadi mengatakan, dalam pengambilan sampel tanah di lokasi sedalam 30 meter. Kegiatan tersebut dilakukan pada dua titik. Dengan masing-masing waktu pengeboran per titiknya memakan waktu selama seminggu. “Kini kami sedang menyelesaikan pengeboran di titik kedua,” ujar Kadi Senin (23/1).

Menurutnya, pengambilan sampel ini untuk mengetahui ketebalan tanah serta batu pasirnya. Sehingga kemudian bisa dilakukan tindakan lebih lanjut.
Sementara itu, Dosen Teknik Sipil UGM Ali Awaludin menyampaikan, dari dugaan awal fenomena jalan ambles di Wunut disebabkan adanya aliran air yang berada di bawah tanah. Hal tersebut membuat tanah di atas jalan menjadi lunak dan mempercepat proses longsor atau ambles.

Terkait dengan upaya penelitian, Ali mengaku akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Sehingga kemudian tidak hanya mengidentifikasi penyebab longsor. Namun juga memberikan rekomendasi kepada instansi terkait untuk membangun infrastruktur yang kuat di lokasi rawan tersebut. “Kami akan lakukan penelitian terlebih dahulu di titik yang teridentifikasi longsor. Dengan demikian, rekomendasi bisa kami berikan dan bisa dicarikan solusi yang tepat,” katanya.

Diketahui sebelumnya, jalan di Padukuhan Wunut, Sriharjo, Imogiri ambles pada tanggal 31 Desember 2022. Kejadian amblesnya jalan memang cukup membuat geger berbagai pihak karena salah satu akses menuju Desa Wisata Srikeminut itu ambles usai seminggu perbaikan.

Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun Khasanah menyatakan, lokasi jalan yang rusak memang merupakan daerah rawan bencana. Karena terletak di perbukitan dan berdekatan dengan aliran sungai.

“Sepengetahuan saya memang lokasinya (wilayah sekitar jalan ambles, Red) rawan dan memiliki kontur tanah bergerak, mungkin karena ada jalur air dari atas bukit di bawah jalan,” beber Titik. (inu/eno)

Bantul