RADAR JOGJA – Dubes Indonesia untuk Italia merangkap Malta, Siprus, San Marino, Muhammad Prakosa meninggal dunia di Sacro Cuore FSR Roma, 17 Januari 2023. Sosok ini meninggal dunia di usia 62 tahun 10 bulan. Jenazahnya tiba di Indonesia dan langsung dibawa ke rumah duka di Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Senin malam (23/1).

Beberapa tokoh terlihat hadir dalam pemakaman ini. Sebut saja Sekjend PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sosok Muhammad Prakoso sendiri memang dikenal sebagai politikus senior dari Partai berlambang Banteng moncong putih.

“Saya kenal lama sejak beliau jadi Menteri terus waktu itu saya masih di Badan Diklat partai (PDI Perjuangan )sehingga seringkali kita komunikasi ke beliau,” jelas Ganjar Pranowo ditemui saat melayat di rumah duka, Senin malam (23/1).

Ganjar menilai sosok Prakosa sangatlah peduli terhadap kemajuan. Saat menjabat sebagai Menteri, tak segan memberikan wejangan kepada juniornya. Termasuk nasehat tentang kebijakan organisasi maupun dalam pemerintahan.

Prakosa juga sosok penting dalam perjalanan politik Ganjar Pranowo. Terutama saat pertarungan politik merebut kursi kepemimpinan Jawa Tengah. Berkat rekomendasinya, Ganjar dipercaya untuk maju sebagai perwakilan PDI Perjuangan.

“Beliau lah yang saat itu membawa rekomendasi dari Bu Mega untuk saya menjadi Gubernur di periode pertama,” katanya.

Dalam eksekutif, Prakosa pernah menjabat Menteri Pertanian pada 1999 hingga 2000. Lalu berselang satu tahun menjabat sebagai Menteri Perhutanan pada 2001 hingga 2004. Terakhir menjabat sebagai Dubes Italia untuk Indonesia.

“Beliau suatu intelek sangat mature dewasa, dan tentu saja sebagai kader partai punya loyalitas yang tinggi,” kesannya.

Presiden Joko Widodo, lanjutnya, juga menyampaikan duka mendalam. Pesan khusus dititipkan kepada Ganjar Pranowo untuk keluarga Prakosa saat bertemu di Bandara Internasional Adi Soemarmo.

Pemerintah, lanjutnya, juga menaruh perhatian lebih terhadap proses medis Prakosa. Termasuk mengurus kepulangan jenazah dari Italia ke Indonesia. Hingga akhirnya bisa tiba di Indonesia pada Senin malam (23/1).

“Pak Presiden titip salam untuk keluarga, pak Presiden memantau lewat Bu Menlu. Jadi pak Prakoso mendedikasikan hidupnya untuk bangsa dan negara sampai akhir hayat sebuah perjuangan yang luar biasa,” katanya.

Terlepas dari politik, Prakosa memiliki sejarah almamater yang sama. Keduanya sama-sama lulusan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Hingga akhirnya bertemu kembali dalam panggung politik.

Ganjar memandang Prakosa sebagai sosok yang egaliter, sederhana dan ramah. Tidak pernah menunjukkan kemewahan. Satu hal yang dia kenang adalah ciri khas menggunakan jam model lama dan biasa.

“Saya tidak pernah lupa jamnya itu diantara orang – orang yang waktu itu menggunakan jam tangan kayaknya paling jelek deh karena orangnya sederhana betul merakyat, enak, egaliter gitu ya, jadi luar biasa,” ujarnya.

Jenazah Muhammad Prakosa akan dimakamkan di kediamannya di Sumbermulyo, Bambanglipuro Bantul. Rencananya berlangsung Selasa siang (24/1), tepatnya sekitar 13.00 WIB. (Dwi)

Bantul