RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat jumlah kasus dan kematian akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) tahun lalu meningkat. Total ada 949 kasus, dengan lima orang meninggal dunia.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Abednego Dani Nugroho mengatakan, jumlah tersebut, mengalami kenaikan sebanyak 539 kasus dibandingkan 2021. Sebab jumlah kasus DBD selama 2021 tercatat hanya 410 kasus, dengan satu kasus kematian.

Menurut Abed, sapaanya, lima kasus kematian pada 2022 menjadi salah satu catatan paling tinggi kasus kematian akibat DBD. Sebab dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kasus kematian akibat DBD hanya 1-2 kasus saja. “Lima angka kematian karena DBD ini kami anggap sangat-sangat tinggi,” ujar Abed Minggu (22/1).

Abed menyebut, lima kasus kematian tidak ada yang diakibatkan karena keterlambatan penanganan medis. Penyebabnya lebih kepada keterlambatan penderita untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes). Sehingga ketika sudah sampai di rumah sakit atau puskesmas, kondisinya sudah terlalu parah saat ditangani.

Selain itu, lanjutnya, kondisi para pasien penderita DBB itu juga diperparah dengan penyakit penyerta. Seperti di antaranya penyakit stroke, jantung, hipertensi, dan diabetes melitus. Para pasien yang meninggal itu diketahui selain memiliki penyakit-penyakit tersebut, juga dinyatakan positif DBD. “Saat bersamaan kelimanya (kasus meninggal, Red) memang dinyatakan positif DBD, sehingga masuk dalam hitungan kasus DBD,” jelas Abed.

Memasuki tahun ini, dia pun meminta agar masyarakat bisa semakin waspada terhadap penyakit DBD. Karena potensi nyamuk untuk berkembang biak sangat tinggi. Seiring dengan masih terus terjadi hujan yang menyebabkan air menggenang.

Hal-hal yang bisa dilakukan masyarakat agar nyamuk Aedes aegypti tidak berkembang biak adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni dengan menguras, mengubur, dan menutup tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak. “Pada tahun ini kami akan menggerakkan lagi gertak PSN bersama masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Sri Wahyu Joko Santoso membeberkan, temuan kasus DBD paling banyak ditemukan di wilayah padat penduduk. Seperti di Kapanewon Kasihan, Banguntapan, dan Sewon. Pola-pola demografis wilayah sub urban, menurutnya menjadi pemicu pesatnya penularan DBD. “Karenanya penting sekali meningkatkan PSN dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) agar terbebas dari DBD,” ucapnya. (inu/eno)

Bantul