RADAR JOGJA – Masyarakat di Kabupaten Bantul diimbau mewaspadai potensi penyakit leptospirosis. Pasalnya, penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus itu semakin besar penyebarannya seiring dengan semakin seringnya turun hujan seperti sekarang. Bahkan tahun lalu ada sedikitnya empat orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Abednego Dani Nugroho mengatakan, penyakit leptospirosis memang merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Penyebarannya bisa melalui genangan air yang terdapat air seni hewan pengerat seperti tikus atau kelinci. Kemudian menular ke manusia dengan masuk melalui luka terbuka.

Abed sapaanya menyebut, selama 2022 jumlah temuan kasus leptospirosis juga tergolong cukup tinggi karena ada 137 kasus dengan empat penderita meninggal dunia. Jumlah tersebut pun naik signifikan dibandingkan tahun 2021 lalu yang temuannya hanya ada 42 kasus dengan dua kasus kematian.

“Untuk itu kami himbau agar masyarakat berhati-hati, terutama bagi masyarakat yang sering beraktivitas di tempat berair seperti di sawah. Apalagi lagi pada kondisi hujan seperti sekarang,” ujar Abed, Jumat (20/1).

Terkait dengan upaya pencegahan penyakit itu, ia meminta agar masyarakat memperhatikan kebersihan lingkungan rumah agar tidak digunakan tikus sebagai tempat bersarang. Kemudian juga menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu bot ketika berada ditempat yang terdapat genangan air. Hal itu agar bakteri leptospirosis tidak masuk kedalam tubuh melalui luka terbuka.

Bagi masyarakat yang mengalami gejala penyakit tersebut, Abed pun meminta agar segera memeriksakannya ke rumah sakit atau puskesmas. Beberapa gejala leptospirosis diantaranya demam secara mendadak, kemudian pusing, mata merah, dan badan lemah. Hal yang paling diwaspadai dan harus segera dilakukan penanganan petugas kesehatan adalah jika beberapa gejala tersebut disertai dengan nyeri otot pada betis.

“Jika disertai nyeri betis harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Kami pastikan untuk obat leptospirosis juga sudah tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan,” tandas Abed.

Sebagai informasi, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Reni Kraningtyas sebelumnya menyampaikan bahwa puncak musim hujan di wilayah Bantul diprediksi terjadi pada bulan Januari hingga Februari mendatang. Ia pun mengimbau agar masyarakat bisa lebih siaga sebelum puncak musim penghujan tiba. Sehingga harapannya dampak bencana hidrometeorologi bisa diminimalisir.

“Masyarakat harus memperhatikan lingkungan sekitar, pastikan drainase tidak tersumbat, pohon-pohon yang rindang di sekitar agar dipangkas, baliho di pinggir jalan juga dikuatkan,” ucapnya. (inu/bah)

Bantul