RADAR JOGJA – Kehadiran Pleret Bubrah, yang merupakan bendungan peninggalan zaman penjajahan Belanda menjadi penting bagi masyarakat Padukuhan Onggopatran, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul. Meskipun wujud bangunan tersebut sudah hilang, masyarakat setempat mencoba membangkitkan kenangan tentang bendungan tersebut. Melalui upacara adat dekahan gedhe Onggopatran, dan pameran seni rupa.

Pantauan Radar Jogja, kegiatan upacara dekahan gedhe terlihat sangat meriah kemarin(31/7). Puluhan warga dari orang tua hingga anak-anak, lengkap berbusana adat Jawa dan berkostum unik mengarak gunungan. Gunungan yang berbahan bambu dan batang padi itu, diarak dari Monumen Lumpang menuju Pleret Bubrah di Padukuhan Onggopatran.

Pegiat Budaya Komunitas Podjok Piyungan Jogjakarta Alim Bakhtiar mengatakan, Pleret Bubrah diketahui merupakan sebuah wilayah berupa dam bendungan sungai yang telah rusak di wilayah Pranti, Onggopatran. Bendungan tersebut dibangun sewaktu zaman Hindia Belanda. Namun dalam perkembangannya mengalami kerusakan. Kemudian diganti dengan bendungan baru yang lebih modern. “Kegiatan ini ditujukan untuk membuka memori kembali akan nilai sebuah bendungan yang pada dasarnya berhubungan dengan dunia pertanian berikut sosial budayanya,” bebebr Alim kemarin (31/7).

Dijelaskan Alim, sebagian masyarakat padukuhan Onggopatran mayoritas berprofesi sebagai petani, buruh, dan wiraswasta. Keberadaan sebuah bendungan, tentunya menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat untuk mengairi areal persawahan dan kebutuhan pertanian lainnya.

Lebih dari itu, lanjut Alim, pameran seni rupa Plered Bubrah juga menjadi salah satu respon para seniman tentang berbagai macam permasalahan pertanian. Terlebih semakin menyempitnya lahan pertanian dan berkurangnya pasokan air karena lahan hutan yang menipis. Akibat pesatnya pembangunan kota dan kawasan industri.

Diakuinya, dunia pembangunan yang seringkali berjalan cepat, banyak terjadi tarik menarik kepentingan antara kebutuhan industri dengan keadaan alam dan sosial lingkungannya. Tak terkecuali pula di daerah kalurahan Srimulyo. “Hal ini tentu berdampak pula pada perputaran roda ekonomi, perubahan sosial budaya dan juga permasalahan lingkungan,” sambungnya.

Seorang pengunjung Dewangga mengaku takjub dengan kegiatan dekahan gedhe serta pameran seni rupa Pleret Bubrah. Menurutnya, kegiatan Plered Bubrah menarik dan cukup memberikan edukasi tentang sejarah di wilayah Pranti, Onggopatran. “Cukup memberi saya pemahaman tentang sejarah bendungan di padukuhan Onggopatran,” sebutnya. (inu/eno)

Bantul