RADAR JOGJA – Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut jumlah tenaga kesehatan bidang keperawatan di Bantul masih jauh dari kata cukup. Saat ini, sumber daya perawat di Kabupaten Bantul hanya berjumlah 2.800 orang. Meski demikian, angka tersebut dinilai belum cukup untuk mendukung visi dan misi Bantul di bidang kesehatan masyarakat (kesmas).

Padahal, perawat juga merupakan garda terdepan dalam memberikan pelayanan di bidang kesmas. Terutama di fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, hingga posyandu. Untuk itu, Halim pun mendorong agar organisasi keperawatan bisa lebih meningkatkan kompetensi di bidang praktik keperawatan.

Sehingga harapannya nanti, para perawat di Bantul bisa lebih efektif dan optimal dalam memberikan pelayanannya ke masyarakat. “Melihat pandemi kemarin, banyak masyarakat yang bergantung kepada mereka (perawat, Red). Maka perawat menjadi komponen yang strategis dan terdepan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat,” ujar Halim usai menghadiri Musda DPD Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI) Bantul Sabtu (25/6).

Sementara itu, Ketua Panitia Musda ke-10 DPD PPNI Bantul Sihono mengaku, persatuannya memiliki komitmen besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan di bidang profesi keperawatan. Hal itu pula yang menjadi tema Musda organisasinya yakni Perawat Bersama Rakyat Menuju Bantul Sehat dan Hebat.

Lebih lanjut, agenda yang diketuainya tersebut digelar sebagai tindak lanjut pelaksanaan Musyawarah Wilayah PPNI Jogjakarta pada Februari lalu. Kegiatan itu diikuti oleh 67 utusan dan peninjau dari pengurus DPW, pengurus DPD, dan komisariat. “Musda merupakan agenda penting dan strategis bagi perawat di Kabupaten Bantul. Untuk menilai kemajuan organisasi PPNI dan menentukan arah pergerakan arah organisasi serta menyusun program lima tahun ke depan,” ungkap Sihono. (inu/eno)

Bantul