RADAR JOGJA – Minimnya anak yang mau menimba ilmu di sekolah negeri di wilayah Padukuhan Brongseng, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul menggugah hati Kertorejo. Mantan dukuh itu rela mengeluarkan kocek sampai jutaan rupiah, agar mereka mau sekolah SD Negeri Brongseng. Seperti apa kisahnya?

Iwan Nurwanto, Bantul, Radar Jogja

Delapan tahun, Kertorejo purna sebagai dukuh Brongseng. Namun, kepedulian Kertorejo terhadap warganya masih dilakukan. Bahkan pria berusia 70-an tahun ini rela merogoh kocek bagi anak-anak agar mau sekolah di SDN Brongseng. Setiap satu orang murid baru setidaknya diberi Rp 100 ribu olehnya.

Mbah Kerto sapaan akrabnya, mengungkapkan alasan memberi uang kepada setiap murid baru yang bersedia masuk ke SD Negeri Brongseng lantaran ingin mempertahankan aset padukuhan sekolah. Serta agar wilayahnya lebih hidup dengan suasana anak-anak yang bersekolah.

Mbah Kerto mengaku tidak pernah merasa dirugikan meski sudah keluar uang sampai jutaan rupiah per tahun. Setiap tahun setidaknya ia menarget bisa menyekolahkan 20 anak di SDN Brongseng. Sementara untuk upayanya itu diketahui sudah berjalan sejak dua tahun lalu.

“Alhamdulilah dengan seperti itu saya malah ada saja rezekinya. Semoga saya bisa diperpanjang umurnya agar bisa terus melakukan hal seperti ini dan mempertahankan SD Negeri Brongseng,” ujar Kerto yang sudah menjabat Dukuh Brongseng dari tahun 1994 sampai 2014 ini, belum lama ini.

Sebagai informasi, SD Negeri Brongseng sendiri merupakan salah satu sekolah negeri di Kapanewon Pandak yang mengalami masalah kekurangan murid sejak lima tahun terakhir. Warga masyarakat dan guru di sekolah itu pun terus berupaya agar sekolah tersebut bisa terus mendapatkan siswa agar tidak ditutup.

Salah satu tokoh masyarakat Padukuhan Brongseng, Dalyanto mengakui kalau apa yang dilakukan oleh Mbah Kerto, merupakan panggilan jiwa. Serta wujud komitmen dari mantan dukuh untuk mempertahankan SD Negeri Brongseng agar tidak ditutup.

Dalyanto menyebut, banyaknya anak-anak yang enggan bersekolah di SD Negeri Brongseng lantaran ketatnya persaingan sekolah di wilayah sekitar padukuhan. Selain itu, jumlah anak-anak usia sekolah di Padukuhan Brongseng juga minim. Serta dulunya sekolah tersebut pernah terjerat kasus yang kemudian membuat orang tua takut untuk menyekolahkan anaknya.

Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini pihak sekolah dengan masyarakat terus berupaya mengembalikan nama baik sekolah. Diantaranya dengan terus mengedukasi masyarakat bahwa SDN Brongseng merupakan sekolah yang berkualitas serta menggandeng lembaga PAUD dan TK agar mau mendaftarkan anak-anaknya di sekolah tersebut.

“Untuk saat ini kami terus meyakinkan masyarakat kalau di sini (SD Negeri Brongseng) tidak kalah dengan sekolah lainnya. Kami masyarakat bersama sekolah terus meningkatkan kualitas baik gurunya, pelajarannya hingga struktur pendidikannya,” ucap Dalyanto. (bah)

Bantul