RADAR JOGJA – Penutupan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan ternyata tidak hanya berdampak pada pencemaran lingkungan saja. Potensi penyakit akibat penumpukan sampah pun menghantui masyarakat apabila dibiarkan begitu saja. Seperti diantaranya muntaber, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga Leptospirosis.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Sri Wahyu Joko Santoso mengatakan, potensi penyakit itu muncul lantaran adanya aktivitas lalat dan tikus di tumpukan sampah. Binatang-binatang tersebut disinyalir dapat membawa virus penyakit yang nantinya menular kepada manusia. Terlebih lagi jika tumpukan sampah berada di rumah tangga atau wilayah pemukiman.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Sri Wahyu Joko Santoso.(ISTIMEWA)

“Jenis penyakit yang berisiko muncul dari tumpukan sampah adalah penyakit yang dibawa vektor lalat,” beber pria yang akrab disapa dokter Oky ini, kemarin (10/5).

Dikatakan Oky, terkait dengan upaya pencegahan potensi penyakit akibat penumpukan masyarakat bisa melakukan pengelolaan sampah. Seperti melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik serta menjauhkan tumpukan sampah dari area rumah dan ditempatkan di area terbuka.

Menurutnya, upaya pemilahan sampah tersebut penting dilakukan agar sampah organik yang mudah busuk bisa diolah supaya tidak menimbulkan bau yang mengundang binatang pembawa penyakit. Sementara sampah anorganik seperti plastik bisa dipilah untuk kemudian di daur ulang.

Upaya lain yang bisa dilakukan juga bisa dilakukan dengan penyemprotan disinfektan atau insektisida. Hal itu penting dilakukan agar hewan pembawa penyakit seperti lalat tidak berkerubung di lokasi penumpukan sampah. Di sisi lain, penyemprotan bahan kimia itu juga disebut cukup ampuh untuk mematikan organisme penyebab bau busuk dari tumpukan sampah “Namun jika tidak diolah, anjuran kami adalah menempatkan tumpukan sampah pada tempat yang tertutup agar tidak mengundang hewan,” imbuhnya.

Diketahui, penumpukan sampah untuk saat ini memang cukup menjadi permasalahan pelik bagi sebagian masyarakat di Jogjakarta. Sebab satu-satunya tempat pembuangan sampah di DIJ yakni Piyungan hingga kini masih diblokade masyarakat yang terdampak dari aktivitas pembuangan di lokasi tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul Ari Budi Nugroho sebelumnya menyatakan, untuk saat ini pihaknya memang telah menghentikan pelayanan pengangkutan sampah di semua tempat pembuangan sampah (TPS) yang tersebar di kabupaten Bantul. Penghentian pelayanan pengambilan sampah itu pun dipastikan tidak tahu sampai kapan karena masih belum ada keputusan pembukaan kembali TPA Piyungan.

Ari menyebut, jika sehari TPST Piyungan ditutup saja setidaknya ada sekitar 180 ton sampah yang terbengkalai. Karena hal itu, ia pun meminta masyarakat untuk bisa mengelola sampah secara mandiri. “Yakni dengan melakukan pengurangan sampah mulai dari rumah tangga dengan cara memilah dan mengolah sampah organik,” katanya. (inu/bah)

Bantul