RADAR JOGJA – Seluruh objek wisata (obwis) di DIJ tidak ditutup selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang. Namun, kunjungan dimonitor maksimal 25 persen dari kapasitas maksimal. Selain itu, perayaan pergantian tahun baru turut dilarang.

Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) DIJ Singgih Raharjo menyebut, tidak akan melakukan penutupan terhadap berbagai obwis. Namun dipastikan akan dilakukan pengaturan tegas. “Sudah dikeluarkan instruksi gubernur mengikuti Kemendagri. Beberapa pengaturan, tempat wisata diperbolehkan buka dengan kapasitas 25 persen. Hotel juga,” bebernya kepada wartawan (2/11).

Pengawasan jumlah pengunjung di obwis dilakukan melalui monitoring aplikasi Visiting Jogja. Selain itu, pembatasan melalui aplikasi PeduliLindungi. “Kami kerja sama dengan pemerintah kabupaten-kota untuk penegakan prokes,” tuturnya.

Guna menekan timbulnya kerumunan, perayaan pergantian tahun dilarang. Baik perayaan di obwis maupun hotel. “Tidak ada perayaan tahun baru. Kami berharap ini bisa dipatuhi oleh seluruh desa wisata dan pengelola destinasi. Supaya kita bisa melewati tahun 2021 menyambut 2022 lebih leluasa, sehat, dan aktivitas pariwisata lebih luas lagi,” pintanya.

Hal itu disesalkan anggota Pokdarwis Pantai Goa Cemara, Fajar Subekti. Namun Fajar mengaku pasrah. Lantaran kebijakan sudah ditetapkan. Ia pun mengaku sempat berharap, penyelenggaraan acara pergantian tahun dapat memulihkan geliat ekonomi pelaku wisata di Pantai Goa Cemara. Sebab acara itu masuk kalender event DIJ 2021.

“Itu satu-satunya event kami yang masuk di kalender event DIJ. Itu jadi salah satu andalan kami, Goa Cemara New Year Festival,” keluhnya.
Kendati begitu, Fajar tetap bersyukur kegiatan pariwisata tidak kembali ditutup dalam pemberlakukan PPKM level 3 pada 24 Desember sampai 2 Januari mendatang. “Meski surut, setidaknya kami masih bisa cari nafkah,” ucapnya.

Serupa, Ketua Pengelola Kawasan Wisata Mangunan, Dlingo, Bantul, Purwo Harsono juga mengaku kehabisan kata menanggapi kabar akan ditetapkannya PPKM Level 3 secara nasional. “Saya hampir tidak ada pendapat. Kalau sudah peraturan pemerintah, kami berusaha taat aturan,” sebutnya.

Diakui, libur Nataru jadi momen bagi pelaku pariwisata panen penghasilan, sehingga kesempatan sangat dinanti-nantikan. “Tiap libur panjang, pasti jadi pundi-pundi yang kami tunggu. Tapi kami mengikuti saja aturan pemerintah seperti apa,” tandasnya. (fat/laz)

Bantul