RADAR JOGJA – Salah satu kebutuhan primer manusia adalah pangan. Namun untuk sebagian masyarakat, cita rasa khas dari suatu olahan merupakan hal penting. Ini menciptakan ruang baru dalam rekreasi, yaitu wisata kuliner.

Salah satu kalurahan yang sadar untuk merawat potensi wisata kuliner adalah Trirenggo di Kabupaten Bantul. Kalurahan dengan jumlah penduduk sekitar 17, 7 ribu jiwa ini mencanangkan Dusun Code sebagai kampung bakmi. “Di kampung itu ada sembilan warung bakmi, ditambah dua angkringan yang mampu menghidangkan Bakmi Code,” beber Carik Trirenggo, Dwi Purnomo kepada Radar Jogja kemarin (22/11).

Awalnya, memang hanya ada satu warung bakmi di Code. Beberapa tetangga dari si pemilik warung bakmi kemudian turut membuka usaha serupa. “Awalnya ada Mbah Mo, terus ada Mbak Mega, Pak Wing, Mbak Wulan, Noemani, Mbah Sabar, Wominar, Pak Yadi, ada dua angkringan juga yang bisa buat,” paparnya.

Berjajarnya warung bakmi, lantas diidentifikasi sebagai potensi. Sebab usaha tetap mampu bertahan, kendati ada penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel. “Meskipun PPKM sepi, tapi selama ini penjual bakmi tidak pernah sepi pembeli,” ucap ayah tiga orang anak itu.

Hal ini membuktikan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar. Sehingga dalam keadaan sesulit apapun, masyarakat akan mencarinya. “Banyaknya warung bakmi itu bentuk ketahanan pangan ya. Sebagian ekonomi masyarakat tumbang karena pandemi, tapi warung bakmi malah eksis,” ujarnya.

Dalam upaya pengembangannya, Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Trirenggo berupa membantu pemasaran. Sebab Pemkal telah mencanangkan Dusun Code sebagai kampung bakmi. Sehingga tidak semua warung di Code yang diperkenalkan. “Ketika ada banyak warung bakmi. Kami tidak hanya mengangkat satu. Tapi keseluruhan. Agar orang tahu, oh ternyata Bakmi Code itu bukan Mbah Mo. Ada juga yang lain,” jabarnya.

Salah satu media promosi yang dilakukan oleh Pemkal adalah menyuguhkan Bakmi Code sebagai hidangan. Saat pemkal menggelar hajatan. Seperti hari ini, pemkal yang tengah memperingati Hari Lahir (Harlah) Kalurahan Trirenggo ke-75. “Kami hidangkan, supaya pengunjung merasakan langsung khasnya Bakmi Code,” tegasnya.

Selain promosi, pemkal turut mengasuh persaingan sehat antarpenjual Bakmi Code. Pemkal mengundang para penjual Bakmi Code untuk bertemu dalam satu ruang. “Kami awali dengan mengundang mereka dan malah dari situ dibuat paguyuban. Kami tidak mau satu sama lain saingan dan saling menjatuhkan,” jelasnya.

Sebagai penikmat Bakmi Code, Dwi menuturkan bahwa kekhasan olahan mi kuning terletak pada kuahnya yang gurih. Kuah Bakmi Code pun memiliki kekentalan yang berbeda dengan bakmi Jawa pada umumnya. “Itu terpengaruh oleh cara mengolah daging, dan yang membedakan dengan bakmi lain. Terus ditambah dengan telur bebek,” tandasnya. (fat/bah)

Bantul