RADAR JOGJA – Tidak dapat dipungkiri, aksi kekerasan jalanan oleh anak atau klitih tumbuh di sekolah. Seragam yang dikenakan dapat jadi identitas. Namun, seragam khusus sekolah yang jadi kebanggaan, dipandang membahayakan.

Ketua Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Bantul, Muhammad Zainul Zein berpendapat jika semestinya seragam sekolah hanya berwarna putih abu-abu bagi SMA sederajat, putih biru bagi SMP sederajat, dan putih merah bagi SD sederajat. “Dengan begitu, anak lebih aman ketika berada di jalan,” tegasnya dihubungi Radar Jogja Jumat (16/11).

Dijelaskan, tidak dapat dipungkiri bahwa tindak kekerasan oleh anak tumbuh di sekolah. Sebab rekrutmen geng dilakukan di sekolah bahkan melibatkan peran alumni. Oleh sebab itu, anak yang mengenakan seragam khusus sekolah dinilai berisiko. Lantaran anak tersebut dapat dengan mudah dikenali.

Mengambil contoh kasus yang ditangani oleh Zainul beberapa tahun silam. Seorang siswa di Bantul sampai didatangi oleh gerombolan siswa lain dan dikeroyok. Awal mulanya, siswa tersebut dikira merendahkan siswa dari sekolah lain. “Anak ini dapat gampang dicari dengan rombongan lain. Karena saat bertemu di jalan, dia pakai seragam khusus sekolahnya,” paparnya.

Kasus tersebut, jelasnya berhasil dimediasi oleh Satgas PPA tanpa melalui proses hukum. Pelaku pengeroyokan mendapat sanksi tegas dari sekolahnya. Demi masa depannya, anak tersebut dipindah bukan dikeluarkan. “Hebatnya, anak ini justru jadi lulusan terbaik di sekolah barunya,” ungkapnya.

Zainul berharap, ada penanganan khusus terhadap anak pelaku kekerasan. Penanganan yang dimaksud bukan dengan penahanan. Anak dinilai dapat berubah dengan diberi hukuman yang tetap memberi kesempatan. “Saya berharap, anak pelaku kekerasan dapat penanganan yang sama dengan pengguna narkoba. Bukan ditahan, tapi direhabilitasi,” tandasnya.

Psikolog Klinis, Ida Nur Faizah menjelaskan, perilaku agresif anak terhadap kekerasan berkaitan dengan tahap perkembangan. Pada usia remaja, anak dalam fase pencarian jati diri. “Mereka suka eksplorasi. Dilihat dari emosi, regulasinya masih dalam tahap menggebu-gebu,” paparnya.

Pada tingkat emosi itu, anak menyukai tantangan. Emosi juga masih labil. Sehingga sangat membutuhkan rangkulan. Orang tua (ortu) memiliki peran penting dalam hal ini. “Biasanya, alasan mereka melakukan kekerasan, (justru, Red) salah satu yang paling banyak dari keluarganya,” ungkapnya.

Untuk itu, Ida meyakini anak pelaku kekerasan butuh pendampingan psikologis. Sejauh ini, penahanan masih jadi solusi pilihan. ”Kami kerja, kalau ingin memperbaiki sesuatu, harus tahu akarnya,” katanya.

Peneliti kekerasan jalanan oleh anak, Yohanes Marino turut membenarkan, penahanan bukan solusi. Sebab anak yang masuk penjara justru semakin lihai berbuat kejahatan. “Mereka di dalam, justru belajar pasal. Bukan tobat, selepas tahanan, mereka bakal mengulangi perbuatannya,” ujarnya. (fat/bah)

Bantul