RADAR JOGJA – Kekerasan terhadap anak terus terjadi. Mirisnya, mayoritas lokus kekerasan justru terjadi di rumah. Rerata justru orang tua (ortu) sebagai pelaku. Sementara bentuk dominasi catatan adalah kekerasan psikis.

Berdasar catatan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Bantul terjadi 90 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2021. Catatan dihimpun berdasar laporan yang masuk ke Polres Bantul, RSUD Panembahan Senopati, dan P2TP2A Bantul atau Arum Dalu. “Rekap data kasus korban kekerasan terhadap anak periode Januari sampai dengan November 2021,” judul data yang dilansir Forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (FPK2PA) Bantul kepada Radar Jogja Rabu (17/11).

Data tersebut memuat informasi, lokasi kekerasan mayoritas terjadi di rumah. Ditemukan sebanyak 25 kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan di rumah. Menyusul kemudian, kekerasan di tempat umum 24 kasus, lalu kekerasan di rumah pelaku sebanyak 14 kasus.

Mirisnya, ortu jadi mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak. Tercatat sebanyak 14 kasus kekerasan melibatkan orang tua sebagai pelaku. Selanjutnya disusul kekerasan oleh pacar sebanyak enam kasus, dan anggota keluarga sebanyak lima kasus. Selebihnya, sebanyak 22 kasus, tidak diketahui.

Bentuk kekerasan yang paling banyak diterima oleh anak pun psikis. Kasusnya mencapai 22 catatan, disusul oleh pencabulan 21 kasus, pelecehan seksual 15 kasus, kekerasan fisik 15 kasus, pemerkosaan 15 kasus, dan penelantaran lima kasus.

Terungkap pula, anak usia remaja jadi korban paling banyak. Jumlah kekerasan pada rentan usia 11 sampai 17 tahun mencapai 63 kasus. Sementara pada usia 6-10 tahun sebanyak 23 kasus, dan kasus pada anak usia lima tahun ke bawah sebanyak empat kasus.

Data tersebut sesuai dengan penelitian psikolog klinis, Ida Nur Faizah. Perilaku agresif anak terhadap kekerasan berkaitan dengan tahap perkembangan. Pada usia remaja, anak dalam fase pencarian jati diri. “Mereka suka eksplorasi. Dilihat dari emosi, regulasinya masih dalam tahap menggebu-gebu,” paparnya.

Pada tingkat emosi itu, anak menyukai tantangan. Emosi juga masih labil. Sehingga sangat membutuhkan rangkulan. Ortu memiliki peran penting dalam hal ini. “Biasanya, alasan mereka melakukan kekerasan, (justru, Red) salah satu yang paling banyak dari keluarganya,” ungkapnya.

Dibeberkan pula, menurut penelitian, mayoritas anak yang melakukan tindak kekerasan bukan berasal dari keluarga kurang finansial. Umumnya, keluarga mereka justru berkecukupan. “Ortunya tidak aware anaknya tidak butuh uang. Yang dibutuhkan anak itu perhatian dan kasih sayang. Sedangkan dalam tanda kutip (ortu, Red) seperti membeli (kebahagiaan anak, Red) dengan uang,” sesalnya.

Berdasar catatan, dipahami bahwa kasus kekerasan terhadap anak masuk kategori kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebab pelakunya, mayoritas adalah ortu dari anak korban. Hal ini dipahami oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Pemkab Bantul pun menetapkan misinya yang kelima adalah penanggulangan masalah kesejahteraan sosial dan kabupaten layak anak (KLA), ramah perempuan dan penyandang disabilitas.

Untuk itu, Pemkab Bantul bentuk kader pencegahan KDRT di tingkat kapanewon dan kalurahan. Sesuai dengan Keputusan Bupati No 26/2021 mengenai pembentukan kader pencegahan KDRT. “Pemkab perlu meningkatkan kompetensi dalam mengedukasi masyarakat, karena tindak kekerasan itu faktornya sangat kompleks,” tandas Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. (fat/pra)

Bantul